Hibata.id, Gorontalo – Menjelang penghujung Ramadan, tradisi Tumbilotohe akan kembali menyemarakkan masyarakat Gorontalo. Perayaan ini telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya daerah. Selama tiga malam berturut-turut, mulai malam ke-26 Ramadan hingga malam takbiran, ribuan lampu minyak akan menghiasi setiap sudut kota dan desa, menciptakan atmosfer penuh kehangatan, kebersamaan, dan spiritualitas yang mendalam.
Namun, Tumbilotohe lebih dari sekadar tradisi penerangan malam. Bagi masyarakat Gorontalo, Tumbilotohe adalah simbol harapan, pembersihan jiwa, dan penyambutan malam penuh berkah di akhir bulan suci Ramadan.
Tahun ini, Pemuda Buntulia, Kabupaten Pohuwato, memperkenalkan inovasi dalam perayaan Tumbilotohe lewat Festival Green Tumbilotohe. Festival ini muncul dari niat untuk melestarikan tradisi pasang lampu, sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan.
Salah satu inovasi yang dihadirkan adalah penggunaan minyak kelapa sebagai bahan bakar utama lampu-lampu yang dipasang. Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar yang tidak ramah lingkungan, sambil mendukung produk lokal.
“Festival Green Tumbilotohe adalah inisiatif kami, Pemuda Buntulia, untuk menjaga budaya Gorontalo tetap lestari. Kami ingin memastikan bahwa festival ini tidak hanya sekadar perayaan, tetapi juga menjadi momen penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam merawat dan melestarikan tradisi ini,” ujar Herson Abdullah, perwakilan Pemuda Buntulia.
Meski mengusung konsep ramah lingkungan, festival ini tetap mempertahankan lima unsur utama yang menjadi inti perayaan Tumbilotohe sejak dulu: Tohetutu, Lampu, Alikusu, Ornamen, Tonggoloopo, Lampu Botol, dan Padalama. Kelima unsur ini adalah bukti bahwa Festival Green Tumbilotohe tetap berakar pada nilai-nilai budaya lokal, sembari mengadopsi pendekatan yang lebih modern dan berkelanjutan.
Selain ribuan lampu yang menerangi malam terakhir Ramadan, festival ini juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan seni dan keagamaan yang semakin memperkaya dimensi spiritual perayaan. Beberapa acara yang digelar antara lain: Lomba Busana Muslim, Qasidah, Tujai Cilik, Tilawatil Qur’an, dan Lomba Adzan.
Dengan berbagai kegiatan tersebut, Festival Green Tumbilotohe tidak hanya menawarkan pesona visual dari lampu yang berpendar, tetapi juga memperkuat aspek religius, edukatif, serta membangun rasa kebersamaan di tengah masyarakat.
Festival ini diharapkan menjadi agenda tahunan yang tidak hanya melestarikan tradisi leluhur, tetapi juga dapat mendongkrak pariwisata budaya di Gorontalo. “Dengan inovasi dan kolaborasi, kami percaya Tumbilotohe bisa berkembang menjadi daya tarik wisata yang semakin dikenal, baik di tingkat nasional maupun internasional,” tambah Herson.
Festival Green Tumbilotohe adalah contoh nyata bahwa tradisi dan inovasi dapat berjalan beriringan. Dengan semangat gotong royong dan kepedulian, festival ini diharapkan dapat menginspirasi generasi muda untuk terus menjaga dan meneruskan warisan budaya Gorontalo agar tetap bersinar di masa depan.