Hibata.id – Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) makin dilirik sebagai penggerak ekonomi desa. Program ini nggak cuma hadir dengan unit usaha yang dekat dengan kebutuhan warga, tapi juga sudah mulai masuk ke dunia digital biar lebih efisien dan transparan.
Mengutip laman resmi merahputih.kop.id, Jumat (22/8), KDMP lahir lewat tiga skema: mendirikan koperasi baru, mengembangkan koperasi eksisting, dan menghidupkan lagi koperasi yang sempat mati suri. Data Ditjen AHU Kemenkumham menunjukkan sudah ada 80.068 KDMP yang berbadan hukum.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid bilang, digitalisasi jadi kunci supaya koperasi jalan lebih rapi. Karena itu, Komdigi bikin pelatihan pembukuan digital khusus buat pengurus KDMP, salah satunya di Karangbesuki, Kota Malang, Kamis (21/8).
“Kami melaksanakan pelatihan dan upskilling digitalisasi koperasi agar layanan bisa lebih efisien dan transparan,” kata Meutya.
Malang sendiri dipilih sebagai pilot project karena sudah banyak UMKM yang melek digital. Komdigi juga memastikan jaringan 4G dan 5G siap untuk dukung program ini.
Di sisi lain, Menteri Koperasi dan UKM Budi Arie Setiadi menekankan bahwa unit usaha KDMP selalu menyesuaikan kebutuhan nyata masyarakat.
“Jenis usaha yang dipilih tidak asal, tetapi berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat desa serta potensi ekonomi lokal yang bisa digerakkan secara kolektif,” ujar Budi.
Beberapa unit usaha yang lagi digarap KDMP antara lain:
-
Gerai Sembako: jual kebutuhan pokok murah, plus menampung hasil panen petani lokal.
-
Gerai Klinik & Apotek Desa: sediakan obat murah sekaligus tempat konsultasi kesehatan.
-
Gerai Simpan Pinjam: kasih modal usaha dengan prinsip saling bantu antaranggota.
-
Gerai Pergudangan & Logistik: jadi tempat aman simpan hasil panen sekaligus bantu distribusi ke pasar.
Pandangan Ekonomi
Peneliti Core Indonesia, Eliza Mardian, melihat KDMP bakal cuan karena fokusnya ke kebutuhan dasar rumah tangga dengan harga lebih terjangkau.
“Produk KDMP umumnya dipasok langsung dari produsen BUMN seperti Bulog, Pertamina Patra Niaga, dan Pupuk Indonesia. Dengan begitu, harga lebih terjangkau dan selalu dibutuhkan masyarakat,” jelas Eliza.
Ia bahkan ngitung, gerai sembako bisa dapat omzet Rp500–Rp600 juta per tahun dengan rata-rata keuntungan 10 persen. Apotek desa juga bisa kantongi Rp30–60 juta setahun, tergantung tata kelola koperasinya.
Dengan kombinasi unit usaha berbasis kebutuhan warga dan dukungan digitalisasi, KDMP diyakini bakal jadi pemain penting di level desa. Pemerintah optimistis program ini bukan cuma memperkuat ekonomi lokal, tapi juga bikin warga lebih sejahtera.















