Hibata.id, Pohuwato – Rencana aksi besar Barisan Rakyat Anti Penindasan (BARA API) di momen Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di Pohuwato kemarin mendadak ngerem.
Aksi yang sebelumnya digadang-gadang bakal ramai dan berpotensi membludak, tiba-tiba resmi dibatalkan—tanpa tanggal pengganti.
Padahal, skenarionya tidak main-main. Sekitar 5.000 massa disebut-sebut siap turun ke jalan.
Bahkan dirancang berlangsung hingga tujuh hari penuh. Ibarat konser besar, panggung sudah siap, penonton hampir datang—eh, lampunya dimatikan.
Keputusan mendadak itu tertuang dalam surat bernomor 002/BARA-APTIV/2026 yang dikirim ke Kapolres Pohuwato.
“Rencana aksi unjuk rasa sebagaimana dimaksud masih ditunda atau dibatalkan sampai batas waktu yang tidak ditentukan,” tulis BARA API dalam keterangannya.
Alasannya? Ternyata bukan drama semata. BARA API mengaku sudah duduk bersama dengan pemerintah daerah, DPRD.
Bahkan terinformasi pihak perusahaan juga hadir membahas tujuh tuntutan yang sebelumnya hendak dibawa ke jalan.
Ditambah lagi, berbagai imbauan dari tokoh masyarakat sampai pemerintah desa ikut bikin suasana jadi lebih adem.
“Pemrakarsa aksi tetap mengawal tujuh poin tuntutan melalui musyawarah dan pertemuan yang konstruktif,” lanjut pernyataan tersebut.
Meski batal turun ke jalan, BARA API menegaskan perjuangan belum tamat—hanya pindah arena dari jalanan ke ruang rapat (Dialog).
Namun, mereka juga memberi peringatan tegas, jangan sampai ada yang numpang nama.
“Jika ada kelompok yang membawa nama BARA API setelah pembatalan ini, maka itu bukan bagian dari kami,” tegasnya.
Soal gaya perjuangan, mereka juga tidak mau dikaitkan dengan aksi rusuh.
“Apapun yang sedang kita perjuangkan dari, untuk dan atas nama rakyat tidak boleh memakai cara anarkis, chaos, kekerasan ataupun merusak fasilitas umum,” tulisnya lagi.

Eh Aksinya Batal
Di sisi lain, jajaran Polres Pohuwato sebelumnya sudah pasang kuda-kuda. Ibarat sudah pakai helm dan pelindung lengkap, tinggal nunggu peluit—tapi pertandingan batal.
Kapolres Pohuwato AKBP Busroni bahkan memimpin langsung apel kesiapsiagaan sehari sebelum May Day. Total 240 personel disiagakan, ditambah satu SSK dari Samapta Polda Gorontalo.
“Kami mengedepankan pengamanan secara humanis, namun tetap tegas terhadap setiap potensi gangguan kamtibmas,” ujarnya.
Menariknya lagi, Kapolda Gorontalo juga sedang berada di Pohuwato saat itu. Jadi, bisa dibilang “tim lengkap” sudah standby.
Akhir Cerita: Aman, Damai, Tanpa Demo
Dengan batalnya aksi tersebut, suasana May Day di Pohuwato justru berjalan tenang. Tidak ada riuh massa, tidak ada teriakan di jalan—yang ada justru suasana kondusif.
BARA API memastikan mereka tetap bergerak, hanya saja lewat jalur yang lebih “dingin”: dialog, koordinasi, dan diplomasi.
Sementara itu, polisi mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga ketertiban dan tidak mudah terpancing isu yang belum jelas.
Dari yang semula diprediksi ramai tujuh hari, kini May Day di Pohuwato berakhir seperti plot twist—sunyi, tapi tetap aman.













