Hibata.id, Pohuwato – Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 mestinya jadi momen evaluasi serius, bukan sekadar seremoni penuh spanduk dan pidato.
Tapi di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, realitasnya terasa seperti ironi yang terlalu nyata untuk diabaikan.
Di satu sisi, Dinas Pendidikan sibuk menggelar Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi siswa SD dan SMP.
Di sisi lain, masih banyak anak yang bahkan belum sempat duduk di bangku ujian—karena mereka tidak bersekolah.
Situasi ini seperti mengukur tinggi ombak, tapi lupa masih banyak yang belum punya perahu.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pohuwato, Arman Mohammad, menyampaikan bahwa pelaksanaan TKA telah rampung dan menjadi alat ukur mutu pendidikan siswa.
“Melalui TKA, kami dapat melihat secara lebih objektif kemampuan akademik siswa sebagai bagian dari evaluasi mutu pendidikan,” ujarnya.
Pernyataan itu memang terdengar optimistis. Namun, di balik angka-angka hasil ujian, muncul fakta yang tak kalah mencolok—jumlah anak tidak sekolah di Pohuwato masih tinggi.
Artinya, sebelum bicara kualitas, persoalan akses saja belum sepenuhnya beres.
“Kami berharap dukungan seluruh guru dan masyarakat, karena tantangan kita di Kabupaten Pohuwato adalah jumlah anak tidak sekolah yang masih sangat tinggi,” katanya.
Kalimat ini seperti alarm yang berbunyi di tengah perayaan. Hardiknas yang seharusnya menjadi panggung capaian, justru berubah menjadi pengakuan bahwa pekerjaan rumah masih menumpuk.
Lebih menarik lagi, solusi yang ditawarkan Dinas Pendidikan baru sebatas menggagas gerakan “Ayo Kembali ke Sekolah”.
Sebuah ajakan yang terdengar sederhana, tapi menimbulkan pertanyaan, kalau persoalannya sudah lama ada, mengapa gerakan ini baru digaungkan sekarang?
Apakah anak-anak yang putus sekolah hanya perlu diajak, atau sebenarnya membutuhkan solusi yang lebih konkret—seperti akses, biaya, atau dukungan sosial?
“Kami mengajak semua pihak untuk bersama-sama menggaungkan program ini agar angka anak tidak sekolah terus menurun, sehingga Pohuwato dapat menyiapkan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing,” ujar Arman.
Pernyataan tersebut tentu baik. Namun, publik bisa saja bertanya, apakah cukup dengan “menggaungkan”, atau perlu langkah yang lebih nyata dan terukur?
Hardiknas 2026 di Pohuwato akhirnya menyisakan satu pertanyaan besar—apakah pendidikan di daerah ini sedang bergerak maju, atau masih sibuk merapikan laporan sambil mengejar ketertinggalan?
Yang jelas, ketika masih banyak anak belum masuk sekolah, maka setiap perayaan pendidikan akan selalu terasa setengah lengkap.













