Hibata.id, Bone Bolango – Tambang emas ilegal Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, mendadak ramai. Bukan karena dapat emas banyak, melainkan karena muncul sekelompok pria membawa senjata tajam.
Video kejadian itu kini beredar luas di media sosial. Dalam rekaman berdurasi singkat tersebut, sejumlah pria tampak santai membawa tombak, parang, hingga pedang panjang atau yang dikenal warga dengan sebutan lilang.
Bukan cuma bikin suasana panas, aksi itu juga membuat para penambang lain langsung waspada.
Ada yang memilih merekam, ada juga yang buru-buru menjauh sebelum situasi berubah jadi makin tegang.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, peristiwa tersebut diduga terjadi di area tambang Batu Gergaji.
Kelompok pria itu disebut datang untuk memperebutkan lubang tambang yang saat ini sudah dikelola pihak lain.
Diduga, persoalan klasik soal siapa dapat apa menjadi pemicu keributan.
Apalagi, para pekerja tambang yang datang disebut merasa hasil yang diterima tak sesuai ekspektasi awal.
Informasi lain yang ikut beredar menyebut sebagian pria dalam video itu diduga berasal dari luar Gorontalo, termasuk dari wilayah Sulawesi Utara.
Kapolres Bone Bolango, AKBP Supriantoro, mengatakan polisi langsung bergerak begitu menerima laporan terkait situasi di lokasi tambang.
“Pada sore hari, anggota langsung melakukan upaya paksa berupa pengamanan di lokasi,” kata Supriantoro.
Tak butuh waktu lama, aparat langsung melakukan pengamanan di lokasi yang sempat bikin warga sekitar ikut tegang.
“Alhamdulillah kami berhasil mengamankan sekitar enam orang yang diduga terlibat,” ujarnya.
Meski begitu, polisi menduga masih ada beberapa orang lain yang berhasil kabur saat petugas datang.
Medan tambang yang dipenuhi perbukitan dan jalur tikus membuat sebagian orang memilih mode cepat, begitu melihat aparat tiba.
“Diduga masih ada beberapa orang yang berhasil kabur. Saat ini kami masih berupaya mengidentifikasi pelaku lainnya,” katanya.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Bone Bolango, Robin Thalib, menjelaskan keributan diduga dipicu persoalan bagi hasil tambang.
“Motifnya karena persoalan bagi hasil. Mereka merasa apa yang diterima tidak sesuai dengan yang dijanjikan sejak awal,” kata Robin.
Menurut dia, para pekerja tambang yang datang dari luar daerah mengaku kecewa karena realita di lapangan tidak seindah obrolan awal saat perekrutan.
“Mereka merasa sudah datang dari jauh, dari provinsi sebelah, tapi kenyataannya tidak sesuai dengan pembicaraan awal. Itu yang diduga memicu protes,” ujarnya.
Meski suasana sempat memanas dan penuh aksi saling ancam, polisi memastikan tidak ada korban luka maupun penikaman dalam kejadian tersebut.
“Belum ada korban. Hanya saling mengancam dan situasi mulai memanas. Karena itu kami langsung mengambil tindakan pengamanan agar tidak terjadi konflik lebih besar,” jelasnya.
Robin juga memastikan keributan itu bukan dipicu minuman keras.
“Tidak ada pengaruh miras. Intinya karena persoalan internal dan ketidakpuasan mereka,” katanya.
Dalam operasi pengamanan tersebut, polisi turut mengamankan dua pucuk senapan angin. Sementara sejumlah senjata tajam lainnya belum berhasil diamankan karena diduga ikut “menghilang” bersama pemiliknya yang kabur ke area perbukitan.
“Untuk senjata tajam lainnya belum sempat diamankan karena mereka lebih dulu kabur sambil membawa barang-barang itu,” kata Robin.
Saat petugas tiba di lokasi, sebagian orang disebut langsung berpencar. Ada yang turun ke bawah, ada juga yang naik ke atas tebing demi menghindari petugas.
“Ketika kami datang, ada yang langsung kabur ke atas tebing. Mereka berada di dua titik berbeda, ada yang di bawah dan ada yang di atas lokasi,” ujarnya.
Polisi kini masih mendalami dugaan kepemilikan lubang tambang dan pihak-pihak yang terlibat dalam aktivitas tambang ilegal tersebut.
“Kami masih melakukan pengembangan, termasuk mendalami siapa yang bertanggung jawab di lokasi itu dan pihak-pihak yang terlibat,” tambahnya.
Situasi di lokasi disebut sempat panas hingga dini hari. Namun aparat bersama pemerintah kecamatan dan masyarakat akhirnya berhasil meredam keadaan sebelum berubah jadi bentrokan terbuka.
“Alhamdulillah situasi bisa dikendalikan dan masyarakat akhirnya membubarkan diri sekitar pukul 03.00 Wita,” katanya.











