Hibata.id, Pohuwato – Pantai Pohon Cinta kembali ramai. Bukan karena konser atau agenda seremonial pemerintah yang biasanya penuh baliho dan sambutan panjang.
Melainkan karena ratusan pecatur dari berbagai daerah datang membawa papan catur, jam digital, dan strategi matang yang tampaknya lebih terukur dibanding sebagian perencanaan pembangunan daerah.
Turnamen Catur Pohuwato Cup 2026 resmi dibuka Jumat (08/05/2026) di pelataran Pantai Pohon Cinta dan akan berlangsung hingga Minggu.
Sebanyak 176 peserta ikut ambil bagian memperebutkan hadiah Rp60 juta.
Yang menarik, di tengah kondisi olahraga daerah yang sering hidup segan mati tak mau, turnamen ini justru mampu menghadirkan atmosfer kompetisi yang serius.
Para pecatur datang bukan sekadar cari foto bersama pejabat, tapi benar-benar bertarung mengadu taktik.
Sayangnya, dunia percaturan tampaknya masih kalah populer dibanding “permainan langkah-langkah politik” yang lebih sering dipertontonkan elit daerah setiap musim kepentingan datang.
Di arena pertandingan, langkah salah bisa langsung kena skak. Sementara di dunia birokrasi, langkah ngawur kadang justru dapat tepuk tangan.
Ketua Percasi Pohuwato Abdul Hamid Sukoli mengatakan turnamen tersebut menjadi ruang berbagi pengetahuan sekaligus memperkuat kualitas pecatur Gorontalo.
“Dengan event ini mudah-mudahan kapasitas pecatur di Gorontalo bisa meningkat,” katanya.
Pernyataan itu terdengar sederhana, tapi cukup menampar realitas. Sebab selama ini, banyak kegiatan olahraga di daerah lebih sibuk mengejar seremoni dibanding pembinaan jangka panjang.
Lucunya, para pecatur muda di Pohuwato justru diajarkan berpikir beberapa langkah ke depan, sementara sebagian pengambil kebijakan kadang baru panik setelah masalah datang lebih dulu.
Wakil Bupati Pohuwato Iwan S. Adam dalam sambutannya mengatakan Pantai Pohon Cinta ke depan diharapkan menjadi pusat kegiatan positif masyarakat.
Kalimat itu terdengar bagus. Sangat bagus malah. Karena masyarakat memang sudah terlalu sering mendengar konsep “pusat kegiatan”, “pengembangan kawasan”, sampai “penguatan sektor” yang ujung-ujungnya berhenti di spanduk dan dokumentasi Facebook pemerintah daerah.
Namun kali ini, setidaknya ada aktivitas nyata. Ada pertandingan. Ada peserta. Ada penonton. Ada denyut ekonomi kecil yang bergerak di sekitar arena.
Dan yang paling penting, di turnamen catur ini masyarakat bisa melihat langsung siapa yang benar-benar pintar menyusun strategi dan siapa yang cuma pandai memindahkan bidak tanpa arah.
Di papan catur, raja memang paling penting. Tapi pion kecil sering jadi penentu kemenangan.
Mungkin filosofi itu juga cocok untuk pemerintah daerah: jangan sibuk menjaga kursi raja, sementara pion-pion di bawah terus dibiarkan jalan sendiri tanpa perlindungan.













