Opini

Vis a Vis AI—Manusia yang Memanfaatkan Mesin, Bukan Sebaliknya

×

Vis a Vis AI—Manusia yang Memanfaatkan Mesin, Bukan Sebaliknya

Sebarkan artikel ini
Fadhil Hadju (Penulis adalah Pranata Humas di Kantor Kementerian Agama Kota Gorontalo)
Fadhil Hadju (Penulis adalah Pranata Humas di Kantor Kementerian Agama Kota Gorontalo)

Penulis : Fadhil Hadju (Penulis adalah Pranata Humas di Kantor Kementerian Agama Kota Gorontalo)

Sebuah postingan di instagram menunjukan realita yang miria. Postingan itu tentang sebuah buku yang sudah terlanjur dicetak, tapi menggunakan hasil pemikiran AI (Artificial Intelligent).

Scroll untuk baca berita

Hal ini diketahui setelah ditemukan tulisan hasil salin dan tempel (copy-paste) berupa pola yang sama hasil respon jawaban kecerdasan buatan, terutama ChatGPT.

Buku tersebut adalah buku mata pelajaran Ilmu Komputer (Computer Science)  untuk siswa sekolah menengah di India. Buku itu membahas materi tentang Database Management System. lebih lengkapnya lihat di postingan. Postingan itu dapat dilihat di sini : https://www.instagram.com/p/DYPT0NxmhDF/?img_index=1&igsh=MTJubDJyZ2xjd2gxZQ== .

Hal ini menyadarkan kita, bahwa di luar sana ada sejumlah karya yang dibuat oleh mesin. Bagaimana jika hal ini terjadi di lingkungan pendidikan di negara ini.

Apa jadinya jika ternyata, hasil tulisan para pendidik, penulis buku ajar itu hasilnya karya AI ? Haruskah kita khawatir ? Atau malah ini jadi sepeda roda tiga di dunia pendidikan, atau dalam kehiduapn sehari-hari ?

Penggunaan AI dalam tulis menulis sebenarnya baik. Jika kita tahu resepnya. Hal yang paling mendasar adalah rekonstruksi pemikiran. Beberapa waktu lalu, saat mengikuti dialog dengan Kepala Biro SDM Kemenag RI, Dr. Muhammad Zain.

Menurutnya, penggunaan AI harus dibarengi dengan dasar pemikiran yang baik. Terutama memperkuat konstruksi pemikiran melalui literasi. Semakin banyak bacaan yang kita konsumsi, semakin kuat konstruksi pemikiran kita. Terutama bacaan melalui buku.

Baca Juga:  Ramalan Zodiak 18 Maret 2024 Untuk Hari Ini

Membaca buku mendatangkan beragam manfaat. Selain memberikan informasi yang tidak kita ketahui, dan juga beri pengalaman jalan-jalan ke tempat yang belum kita kunjungi tanpa beranjak dari kamar, membaca buku juga melatih kita untuk berbahasa dengan baik.

Seringkali saya sendiri menemukan diksi-diksi indah, atau juga ilmiah yang baru saya tahu ternyata ada dari membaca buku. Sehingga membaca juga bermanfaat untuk membangun perbendaharaan kata kita yang bermanfaat dalam sehari-hari.

Penggunaan AI tidak bisa kita hindari lagi. Terutama mengenai tugas-tugas penulisan. Seperti saya sendiri, merupakan humas di instansi pemerintah juga ikut menggunakannya. Tetapi pemanfaatan AI harus dibarengi dengan rekonstruksi pemikiran yang mumpuni dari manusia, selaku pengguna (user).

Namun, ketergantungan terhadap AI ini cukup mengkhawatirkan. Sebuah studi membeberkan hal ini. Studi tersebut dilakukan oleh sejumlah peneliti MIT (Massachusetts Institute of Technology) yang melakukan penelitan bertujuan untuk meneliti ‘biaya kognitif’ (cognitive cost), dampak dari penggunaan Large Language Machine (LLM) khususnya pada ChatGPT, produksi OpenAI dalam mengerjakan tugas menulis esai.

Dalam penelitian ini, para peserta dibandingkan ke dalam tiga kategori kelompok : kelompok yang diwajibkan menggunakan LLM, kelompok yang menggunakan mesin pencari biasa (search engine), dan kelompok yang menggunakan kemampuan murni otak manusia. Tujuannya untuk melihat tingkat beban kognitif dan keterlibatan otak para peserta.

Baca Juga:  Pilkada 2024 dan Data Kemiskinan, Akan Jadi ‘Perdebatan Panas’ Calon Pemimpin Gorontalo?

Hasil penelitian menunjukan, terdapat perbedaan pola konektivitas saraf yang sangat jelas, dimana keterlibatan otak akan menyusut seiring dengan kuantitas penggunaan bantuan eksternal untuk berpikir. Kemudian penurunan daya ingat. Hasil untuk kelompok yang menggunakan LLM sudah jelas.

Mereka kurang mampu mengingat hasil dari tulisan esai yang dibuat. Kemudian disusul dengan tingkat kepercayaan diri yang berkurang. Peserta menganggap hasil tulisannya tidak orisinal.

Paling akhir, yakni keseragaman bahasa yang digunakan. Kita bisa melihat pola dari tulisan mesin (AI). Seperti yang saya sebutkan sebelumnya pada buku cetak pembelajaran di India.

Dalam kesimpulan studi tersebut, penggunaan LLM memiliki dampak yang berpotensi pada menurunnya keterampilan belajar manusia.

Penelitian ini juga membuktikan bahwa ketergantungan kita kepada AI, selaku mesin, akan menyebabkan penurunan fungsi pemikiran dan pembelajaran secara kontinu. Untuk membaca lebih lengkap studi bisa di sini : https://arxiv.org/pdf/2506.08872v1.

Dalam tulisan di website The Harvard Gazette, Fawwaz Habbal, seorang dosen senior fisika terapan pada Sekolah Teknik dan Ilmu Terapan John A. Paulson menuliskan pendapatnya tentang AI. Menurutnya, hanya manusia yang bisa menyelesaikan permasalahan manusia (Only Human can Solve Human Problems).

“Sebuah mesin seperti AI memang dirancang untuk terlibat dalam pemikiran kritis—analisis data, pemecahan masalah, dan pemodelan—tapi memiliki keterbatasan” tulis Fawwaz. Lanjutnya, “Pemikiran kritis membutuhkan pengalaman manusia, wawasan manusia, serta etika dan penalaran moral.

Baca Juga:  Thariq dan Nilai-Nilai Dasar Perjuangannya

Mesin saat ini kekurangan semua itu, dan prosesnya bersifat rekursif”. Selengkapnya tulisan tersebut dapat di baca di sini : https://news.harvard.edu/gazette/story/2025/11/is-ai-dulling-our-minds/.

Maksud dari Fawwaz yaitu, pengalaman kita yang memperkaya khasanah hasil tulisan mesin. Bukan kita yang bergantung dari hasil yang didikte oleh mesin. Sehingga prosesnya adalah manusia dan mesin saling belajar bersama. Bukan manusia yang digurui mesin.

Jangan sampai yang terjadi adalah manusia yang dimanfaatkan mesin untuk menghimpun data, bukan sebaliknya, manusia yang memanfaatkan mereka untuk bank data otak.

Sehingganya manusia yang sehari-hari berhadapan (vis a vis) dengan mesin harusnya bisa jadi lebih pintar. Seperti dalam keseharian saya, selaku humas yang sering memanfaatkan AI dalam kerjaan.

Tugas pengalaman : meliput acara/giat, bertemu dengan stakeholder, mengalami pengalaman satu acara, dan masih banyak pengalaman langsung yang secara langsung menambah wawasan dalam membuat suatu tulisan berita secara utuh.

Dengan demikian, hal yang bisa dilakukan setelah keluar hasil tulisan hasil Kecerdasan Imitasi (AI), yaitu mengeditnya dengan pemikiran kita. Dengan tujuan hasil yang diinginkan dapat tercapai.

 

 

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel