HeadlineSosial

Jelang PENAS KTNA, Petani Pohuwato Justru Masih Berebut Air dan Pupuk

×

Jelang PENAS KTNA, Petani Pohuwato Justru Masih Berebut Air dan Pupuk

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi petani sawah. Gambar oleh Blitar Apik dari Pixabay
Ilustrasi petani sawah. Gambar oleh Blitar Apik dari Pixabay

Hibata.id, Gorontalo Lima hari lagi Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII resmi dibuka di Provinsi Gorontalo Gorontalo.

Hotel-hotel mulai dipenuhi tamu, tingkat hunian disebut dikabarkan mencapai sekitar 85 persen.

Scroll untuk baca berita

Peserta, pendamping, pejabat, pelaku usaha hingga wisatawan dari berbagai daerah terus berdatangan.

Provinsi Gorontalo bersiap menjadi etalase pertanian Indonesia. Namun jauh dari ruang-ruang konferensi, baliho penyambutan, dan kemeriahan agenda nasional itu, ada cerita lain yang belum tentu masuk dalam panggung utama PENAS.

Cerita itu datang dari Kabupaten Pohuwato. Di daerah yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan Gorontalo tersebut, sebagian petani justru sedang menghadapi persoalan yang sangat mendasar.

Diantaranya, air irigasi yang dipenuhi lumpur dan pupuk yang belum mudah diperoleh saat dibutuhkan petani.

Ketika Sawah Mulai Kehilangan Air Bersih

Di Kecamatan Duhiadaa contohnya, petani mengaku kondisi saluran irigasi tidak lagi seperti beberapa tahun silam. Air yang dulu mengalir jernih kini kerap berubah keruh setiap kali hujan turun di kawasan hulu.

Lumpur ikut terbawa ke saluran pertanian dan perlahan mengendap. Akibatnya, irigasi semakin dangkal.

“Dulu air selalu bersih dan cukup untuk semua petani. Sekarang setiap hujan, air berubah seperti lumpur,” kata petani Duhiadaa, Darwin Djafar.

Bagi petani, perubahan warna air bukan sekadar persoalan visual. Itu adalah tanda bahwa produktivitas sawah mereka perlahan ikut berubah.

Darwin mengaku hasil panen yang dahulu mampu mencapai sekitar 30 karung gabah per pantango kini turun hingga separuhnya. Saat ini, hasil panen rata-rata hanya berkisar 15 karung.

Penurunan itu tentu berdampak langsung pada pendapatan keluarga petani. Keluhan serupa disampaikan Suproto Djafar.

Baca Juga:  Sorak Masyarakat Tilongkabila, Menanti Perubahan dari Amran-Irwan

Menurutnya, sedimentasi membuat kapasitas saluran irigasi terus berkurang. Saat hujan deras datang, air tidak lagi tertampung dengan baik dan meluap ke area persawahan.

“Sedikit hujan deras saja, air langsung meluap ke sawah,” ujarnya.

Bayang-Bayang PETI di Hulu

Kondisi saluran irigasi di Kecamatan Duhiadaa, Kabupaten Pohuwato, yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi. Petani mengeluhkan kualitas air yang semakin keruh dan berdampak pada produktivitas sawah. Foto: Sarjan Lahay/Mongabay Indonesia.
Kondisi saluran irigasi di Kecamatan Duhiadaa, Kabupaten Pohuwato, yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi. Petani mengeluhkan kualitas air yang semakin keruh dan berdampak pada produktivitas sawah. Foto: Sarjan Lahay/Mongabay Indonesia.

Para petani menduga persoalan tersebut berkaitan dengan perubahan kondisi kawasan hulu yang mengalami pembukaan lahan secara masif.

Perhatian kemudian mengarah pada aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang dalam beberapa tahun terakhir terus meluas di Pohuwato.

Data MapBiomas Indonesia mencatat luas lubang tambang di Pohuwato mencapai 1.165 hektare pada 2024. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam lebih dari dua dekade terakhir.

Sementara itu, pembukaan lahan baru untuk aktivitas pertambangan diperkirakan mencapai rata-rata 90 hektare setiap tahun.

Meski demikian, hingga kini belum ada kajian resmi yang secara langsung menyimpulkan hubungan sebab-akibat antara aktivitas PETI dengan sedimentasi yang terjadi di saluran irigasi Duhiadaa.

Namun bagi petani, perubahan yang mereka lihat di lapangan terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan.

Mereka melihat air berubah, mereka melihat lumpur bertambah dan mereka pun melihat hasil panen terus menurun.

Angka Produksi Padi Ikut Menurun

Kondisi tersebut muncul ketika sektor pertanian Gorontalo juga menghadapi tantangan produksi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo menunjukkan luas panen padi Januari-Maret 2026 diperkirakan mencapai 17.050 hektare.

Angka itu turun 13,07 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Produksi padi juga diperkirakan turun 15,98 persen menjadi 101.540 ton.

Meski penurunan produksi dipengaruhi banyak faktor, kondisi irigasi yang tidak optimal tentu menjadi salah satu perhatian penting.

Pupuk Ada, Tapi Sulit Sampai ke Petani

Belum selesai dengan persoalan irigasi, petani Pohuwato juga menghadapi tantangan lain. Kali ini soal pupuk bersubsidi.

Baca Juga:  Suku Polahi, Komunitas Pedalaman Gorontalo dengan Cara Hidup Tradisional

Keluhan paling banyak datang dari Kecamatan Taluditi dan Randangan. Petani mengaku pupuk tidak selalu tersedia ketika mereka membutuhkannya untuk masa tanam.

Dinas Pertanian Pohuwato memastikan stok pupuk sebenarnya masih tersedia. Masalah utama disebut berada pada jalur distribusi.

“Masalahnya bukan stok yang kosong, tetapi distribusinya yang terkendala,” kata Kepala Dinas Pertanian Pohuwato, Kamri Alwi

Menurutnya, kendaraan pengangkut pupuk sempat mengalami antrean panjang sehingga proses pengiriman terlambat.

Bahkan ada armada yang harus menunggu hingga satu minggu sebelum mendapatkan giliran distribusi.

Akibatnya, pupuk masuk ke Pohuwato secara bertahap dan tidak selalu mampu memenuhi kebutuhan petani secara bersamaan.

Dalam pengiriman terakhir, sekitar 44 ton pupuk telah masuk ke daerah tersebut.

“Stok sebenarnya ada. Pengecer tinggal mengajukan kembali sesuai alokasi yang tersedia,” ujarnya.

Namun bagi petani, persoalannya sederhana. Pupuk dibutuhkan saat musim tanam berlangsung.

Jika datang terlambat, maka keberadaan stok di gudang tidak banyak membantu aktivitas di sawah.

PENAS dan Realitas di Lapangan

PENAS KTNA XVII digelar untuk memperkuat sektor pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Ribuan peserta dari seluruh Indonesia akan berkumpul di Gorontalo untuk berbagi inovasi, teknologi dan pengalaman.

Namun di Pohuwato, sebagian petani berharap perhatian terhadap persoalan mereka tidak kalah besar dibanding kemeriahan acara nasional tersebut.

Sebab bagi mereka, kemajuan pertanian tidak hanya diukur dari ramainya hotel atau banyaknya tamu yang datang.

Kemajuan pertanian juga diukur dari sederhana atau tidaknya petani mendapatkan pupuk, lancar atau tidaknya air mengalir ke sawah, serta seberapa besar hasil panen yang bisa mereka bawa pulang untuk menghidupi keluarga.

Baca Juga:  Ridwan Monoarfa: Yang Mau Ikut Pilkada Silakan Bersosialisasi

Dan hingga hari ini, sebagian petani Pohuwato masih menunggu jawaban atas persoalan itu.

Merespons keluhan petani terkait keterbatasan pupuk di Kecamatan Taluditi, Kabupaten Pohuwato, Pemerintah Provinsi Gorontalo mulai mengambil langkah percepatan distribusi guna memastikan aktivitas pertanian tetap berjalan.

Sebelumnya, Pemerintah provinsi berkoordinasi dengan PT Pupuk Indonesia untuk menjamin kebutuhan pupuk petani dapat terpenuhi, terutama menjelang periode tanam yang membutuhkan pasokan pupuk dalam jumlah cukup.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Gorontalo, Muljadi Mario, mengatakan PT Pupuk Indonesia saat ini tengah melakukan pengiriman pupuk sebanyak 20 ton ke wilayah yang mengalami peningkatan kebutuhan.

Selain pengiriman tersebut, kata dia, tambahan pasokan sebanyak 10 ton juga telah disiapkan dan akan dikirim pada tahap berikutnya.

“PT Pupuk Indonesia sementara menyalurkan 20 ton pupuk ke wilayah yang membutuhkan. Selanjutnya akan ada tambahan 10 ton lagi untuk memperkuat ketersediaan pupuk di tingkat petani,” kata Muljadi.

Ia menegaskan pemerintah daerah tidak akan berhenti pada pengiriman tahap awal tersebut. Pemantauan terhadap kondisi di lapangan akan terus dilakukan untuk memastikan kebutuhan petani benar-benar terpenuhi.

Menurut Muljadi, apabila pasokan yang tersedia masih belum mencukupi kebutuhan petani, pemerintah siap mengambil langkah lanjutan bersama pihak terkait agar distribusi pupuk dapat berjalan lebih optimal.

“Kami terus memantau perkembangan kebutuhan pupuk di lapangan. Jika masih diperlukan tambahan pasokan, tentu akan kami koordinasikan kembali agar kebutuhan petani tetap terpenuhi dan aktivitas tanam tidak terganggu,” ujarnya.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel