HeadlineKabar

Kekeringan Melanda Bone Bolango, 221 KK Kesulitan Air Bersih

×

Kekeringan Melanda Bone Bolango, 221 KK Kesulitan Air Bersih

Sebarkan artikel ini
Sebanyak 221 kepala keluarga atau 954 jiwa di Kecamatan Bone Pantai kini mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat berkurangnya sumber air yang selama ini menjadi tumpuan kebutuhan sehari-hari. (Foto: Istw)
Sebanyak 221 kepala keluarga atau 954 jiwa di Kecamatan Bone Pantai kini mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat berkurangnya sumber air yang selama ini menjadi tumpuan kebutuhan sehari-hari. (Foto: Istw)

Hibata.id – Musim kering mulai memberikan dampak serius bagi masyarakat Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Sebanyak 221 kepala keluarga atau 954 jiwa di Kecamatan Bone Pantai kini mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat berkurangnya sumber air yang selama ini menjadi tumpuan kebutuhan sehari-hari.

Berdasarkan laporan sementara Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana BPBD Provinsi Gorontalo per 29 Juli 2026, Desa Tongo menjadi wilayah dengan dampak terbesar. Sebanyak 104 kepala keluarga atau 353 jiwa terdampak, dengan konsentrasi terbesar berada di Dusun 3 yang mencakup 102 kepala keluarga atau 347 jiwa.

Selain Desa Tongo, kekeringan juga melanda sejumlah wilayah lain. Di Desa Batu Hijau tercatat 45 kepala keluarga atau 386 jiwa terdampak. Sementara Desa Uwabanga mencatat 53 kepala keluarga atau 153 jiwa, dan Desa Pelita Hijau sebanyak 19 kepala keluarga atau 62 jiwa.

Baca Juga:  Kabar Baik! Gaji Ke-13 Pensiunan ASN Cair Full Tanpa Potongan, Ini Jadwalnya

Krisis air mulai mengganggu aktivitas dasar masyarakat. Warga kesulitan memenuhi kebutuhan air untuk minum, memasak, mandi, mencuci, hingga menjaga kebersihan lingkungan rumah.

Dalam kondisi tersebut, masyarakat terpaksa mengandalkan distribusi air bersih dari pemerintah dan lembaga kemanusiaan. Warga menyiapkan berbagai wadah seperti ember, jeriken, dan drum untuk menampung air yang dikirim menggunakan kendaraan tangki.

Namun, proses penyaluran bantuan masih menghadapi kendala. Akses jalan menuju sejumlah lokasi terdampak belum sepenuhnya mudah dilalui kendaraan pengangkut air, sehingga distribusi bantuan membutuhkan penanganan ekstra.

Kondisi semakin sulit setelah sumber air bersih di Desa Uwabanga mengalami kerusakan. Gangguan tersebut membuat pasokan air masyarakat terganggu dan meningkatkan ketergantungan terhadap bantuan darurat.

Untuk memenuhi kebutuhan warga, BPBD Provinsi Gorontalo bersama BPBD Kabupaten Bone Bolango, Balai Penataan Prasarana Wilayah Gorontalo, Palang Merah Indonesia (PMI), serta sejumlah pihak terkait melakukan distribusi air bersih.

Baca Juga:  Isu Gaji Pensiunan PNS 2026 Naik, Ini Penjelasan Resmi Taspen

Sebanyak 27.200 liter air telah disalurkan ke Kecamatan Bone Pantai. Rinciannya, 10.000 liter untuk masyarakat Desa Tongo dan 17.200 liter untuk warga Desa Batu Hijau.

Selain itu, BPBD Kabupaten Bone Bolango bersama PMI turut mendistribusikan 18.500 liter air ke Desa Libungo, Kecamatan Suwawa Selatan, serta 1.500 liter ke Desa Bulotalangi Timur, Kecamatan Bulango Timur. Total sementara air bersih yang telah disalurkan mencapai 47.200 liter.

Pemerintah melalui Balai Penataan Prasarana Wilayah Gorontalo juga menyediakan tangki hydrant di Desa Tongo dan Desa Batu Hijau. Fasilitas tersebut menjadi tempat penampungan agar warga tetap dapat mengakses air setelah kendaraan distribusi meninggalkan lokasi.

Kekeringan di Bone Bolango terjadi setelah sejumlah wilayah masuk kategori area agak kering berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Perubahan pola iklim turut memengaruhi ketersediaan air, terutama di desa-desa yang masih bergantung pada sumber air lokal.

Baca Juga:  Data Tak Sinkron, 107 Ekor Sapi Pemprov Gorontalo “Hilang” dari Catatan

Meski distribusi bantuan mampu memenuhi kebutuhan sementara, persoalan air bersih membutuhkan solusi jangka panjang. Pemerintah perlu memperkuat infrastruktur air, memperbaiki sumber yang mengalami kerusakan, memperluas jaringan perpipaan, serta menyiapkan sumber air alternatif bagi wilayah rawan kekeringan.

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa krisis air tidak hanya berkaitan dengan cuaca, tetapi juga berdampak pada kesehatan, sanitasi, pendidikan, dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Tanpa penguatan sistem penyediaan air bersih, warga di wilayah rawan berpotensi kembali menghadapi ketergantungan pada bantuan tangki setiap kali musim kemarau berlangsung lebih panjang.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel