Paling banyak ditanyakan:
- Sherly Tjoanda Sampai Naik Ambulans, Kenapa?
- Bukan Sakit, Lalu Mengapa Sherly Tjoanda Naik Ambulans?
- Apa yang Terjadi Hingga Sherly Tjoanda Dibawa Ambulans?
Hibata.id, Gorontalo – Bukan karena sakit, bukan pula karena keadaan darurat. Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos justru harus meninggalkan lokasi Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo.
Dirinya terpaksa menggunakan ambulans milik kepolisian setelah “dikepung” ratusan peserta yang berebut ingin berfoto bersama.
Momen unik itu terjadi sesaat setelah Sherly menyelesaikan rangkaian kegiatan di arena PENAS XVII.
Saat hendak menuju kendaraan untuk meninggalkan lokasi, langkahnya mendadak melambat.
Bukan karena jalan rusak atau macet kendaraan, melainkan karena lautan manusia yang tiba-tiba mengelilingi rombongan.
Peserta dari berbagai daerah tampak antusias menyapa gubernur perempuan tersebut.
Ponsel langsung terangkat ke udara, kamera dibuka, dan permintaan swafoto berdatangan dari segala arah.
Dalam hitungan menit, jalur keluar berubah menjadi arena “serangan foto bersama”.
Situasi semakin menarik ketika kendaraan yang digunakan Sherly saat tiba di lokasi belum berada di titik penjemputan. Sementara itu, kerumunan peserta terus bertambah.
Tak ingin membuat suasana semakin padat, Sherly memilih solusi yang tak biasa namun cukup efektif.
Ia meminta bantuan ambulans milik kepolisian yang berada di sekitar lokasi kegiatan.
Dengan pengawalan petugas, Sherly kemudian naik ke ambulans tersebut dan meninggalkan kawasan acara dengan aman.
Keberangkatan menggunakan ambulans sempat membuat peserta lain penasaran.
Beberapa orang bahkan mengira terjadi situasi medis yang memerlukan penanganan cepat.
Namun rasa penasaran itu segera terjawab. Ambulans tersebut ternyata bukan sedang membawa pasien, melainkan menjadi “kendaraan penyelamat” dari kepungan penggemar yang ingin mengabadikan momen bersama sang gubernur.
Sepanjang pelaksanaan PENAS XVII Gorontalo, antusiasme peserta terhadap para kepala daerah dan tokoh nasional memang terlihat cukup tinggi.
Tidak sedikit pejabat yang harus melayani permintaan foto bersama dari peserta yang datang dari berbagai penjuru Indonesia.
PENAS XVII sendiri menjadi salah satu agenda nasional terbesar di sektor pertanian dan perikanan tahun 2026.
Ribuan peserta dari seluruh provinsi hadir dalam kegiatan yang menjadi ajang silaturahmi, pertukaran pengetahuan, hingga penguatan kolaborasi antara petani, nelayan, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan.
Bagi Sherly Laos, pengalaman meninggalkan lokasi acara menggunakan ambulans mungkin menjadi salah satu momen paling unik selama menghadiri PENAS XVII.
Sebab, jarang ada kepala daerah yang harus “dievakuasi” bukan karena keadaan darurat, melainkan karena terlalu banyak warga yang ingin mengajak foto bersama.













