Hukum

Diam-Diam, Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Eks Rektor UNUGO Dihentikan

×

Diam-Diam, Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Eks Rektor UNUGO Dihentikan

Sebarkan artikel ini
Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Gorontalo. Foto: unugo.ac.id/Hibata.id
Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Gorontalo. Foto: unugo.ac.id/Hibata.id

Hibata.id, Gorontalo – Penyidikan dugaan pelecehan seksual yang menyeret nama bekas Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Gorontalo (UNUGO), Amir Halid, diam-diam ternyata resmi berhenti.

Bukan karena perkara menghilang, melainkan karena penyidik Polda Gorontalo menilai alat bukti yang dikumpulkan belum memenuhi syarat hukum untuk menetapkan tersangka.

Kalimat sederhana itu menjadi penjelasan utama Polda Gorontalo kepada publik, gelar perkara berbicara berdasarkan bukti, bukan asumsi.

Kepala Bidang Humas Polda Gorontalo Kombes Pol. Marupa Sagala mengatakan, penyidik telah memeriksa lima saksi.

Baca Juga:  Pengakuan Sandra Dewi Jadi Saksi dalam Kasus Korupsi Timah

Mengumpulkan berbagai fakta hukum, serta melibatkan psikolog forensik dalam proses penyidikan.

Namun seluruh rangkaian tersebut bermuara pada satu kesimpulan dalam gelar perkara.

Yakni bukti yang tersedia belum memenuhi ketentuan hukum untuk menetapkan seseorang sebagai tersangka.

“Penentuan tersangka itu berdasarkan hasil gelar perkara dengan alat bukti yang ditemukan. Dari fakta-fakta hukum yang ada, hasilnya belum cukup bukti untuk menetapkan sebagai tersangka,” Kombes Pol Marupa Sagala, Kamis (6/8/2026).

Baca Juga:  Nama Syukri Botutihe Muncul dalam Kasus Dugaan Korupsi Video Wall

Penyidik kemudian menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) sebagai konsekuensi hukum atas hasil gelar perkara tersebut.

Menurut Marupa, hasil asesmen psikologi forensik memang menjadi salah satu bahan pertimbangan penyidik, tetapi bukan satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan.

Ia menegaskan setiap perkara pidana harus memenuhi standar pembuktian yang ditentukan hukum.

“Ketika alat bukti tidak cukup, penyidik memiliki kewenangan untuk menghentikan perkara sesuai mekanisme hukum yang berlaku,” ujarnya.

Baca Juga:  Kompol Kosmas K Gae Dipecat dari Brimob Usai Kasus Ojol Tewas Dilindas Rantis

Perkara ini sebelumnya memasuki tahap penyidikan setelah SPDP diterbitkan pada April 2026.

Namun hingga proses berakhir, Amir Halid belum pernah ditetapkan sebagai tersangka.

Polda Gorontalo juga menegaskan, penerbitan SPDP tidak otomatis membuat seseorang menjadi tersangka karena penetapan status hukum harus didukung minimal dua alat bukti yang sah serta diputuskan melalui gelar perkara.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan dari pihak pelapor maupun Amir Halid terkait penghentian penyidikan tersebut.