Kab. Asahan

PMII Didorong Jadi Penyejuk Ruang Digital, Perkuat Dakwah Islam Rahmatan lil ‘Alamin

×

PMII Didorong Jadi Penyejuk Ruang Digital, Perkuat Dakwah Islam Rahmatan lil ‘Alamin

Sebarkan artikel ini
PMII Didorong Jadi Penyejuk Ruang Digital, Perkuat Dakwah Islam Rahmatan lil ‘Alamin
PMII Didorong Jadi Penyejuk Ruang Digital, Perkuat Dakwah Islam Rahmatan lil ‘Alamin

Hibata.id, Asahan Di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi yang memicu disrupsi informasi, tantangan organisasi kemahasiswaan kini tak lagi sekadar menjaga eksistensi. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) kini dihadapkan pada tantangan yang lebih esensial, yakni menjaga nilai-nilai keislaman agar tetap hidup dalam setiap pikiran, sikap, dan tindakan para kadernya.

Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam sebuah kajian ilmiah bertajuk Aktualisasi Nilai Islam Rahmatan lil ‘Alamin dalam Membentuk Karakter Kader PMII di Era Disrupsi Digital, yang ditulis oleh Irvan Pangihut Harahap.(06 Juli 2026).

Dalam ulasannya, Irvan menegaskan bahwa organisasi yang kuat hanya akan lahir dari kader yang kokoh dalam iman, matang dalam intelektualitas, dan luhur dalam akhlak. Sejak awal berdirinya, PMII menjadikan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) sebagai metode (manhaj) dalam berpikir dan bergerak.

Baca Juga:  Kadisdik Asahan Dorong Pemenuhan SPM Pendidikan lewat Advokasi Berbasis Data

“Nilai tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i’tidal (adil) bukan sekadar konsep yang dipelajari dalam masa kaderisasi. Semua itu adalah prinsip hidup yang harus tercermin dalam setiap langkah kader, baik di kampus maupun di tengah masyarakat,” papar Irvan dalam tulisannya.

Lebih lanjut, tulisan tersebut menyoroti peran strategis kader PMII di era digital. Ketika informasi begitu mudah diakses dan perbedaan pendapat sering kali berujung pada konflik sosial, kader PMII memiliki tanggung jawab moral untuk hadir sebagai penyejuk (cooling system).

Baca Juga:  Forkopimda Asahan Tinjau Perayaan Imlek 2577 Kongzili pada Sejumlah Vihara di Kota Kisaran

Menurut Irvan, dakwah di masa kini menuntut transformasi. Dakwah tidak selalu harus dilakukan melalui mimbar yang bersifat tekstual, melainkan melalui akhlak yang baik, dialog yang santun, karya yang bermanfaat, dan pengabdian nyata kepada masyarakat.

Kaderisasi di tubuh PMII juga diharapkan mampu melahirkan individu yang tidak mudah terjebak pada sikap ekstrem maupun apatis. Kader dituntut untuk bersikap terbuka terhadap perubahan tanpa kehilangan jati diri, kritis terhadap persoalan bangsa tanpa meninggalkan adab, serta teguh memegang prinsip tanpa mengabaikan nilai kemanusiaan.

“Hakikatnya, menjadi kader PMII adalah proses panjang menempa diri. Bukan sekadar memperoleh status keanggotaan, melainkan membangun karakter yang menjadikan ilmu sebagai cahaya, akhlak sebagai identitas, dan pengabdian sebagai tujuan perjuangan,” tegasnya.

Baca Juga:  Kahiyang Ayu Pimpin Bakti Sosial HKG PKK Sumut di Asahan

Di akhir tulisannya, Irvan memberikan pesan menohok bagi generasi muda. Di tengah kompleksitas zaman, masa depan umat dan bangsa sangat membutuhkan generasi yang mampu menghadirkan Islam sebagai rahmat, bukan sekadar wacana.

Keislaman kader PMII pada akhirnya tidak diukur dari seberapa lantang mereka berbicara tentang agama di ruang publik. Nilai sesungguhnya dibuktikan dari seberapa besar ajaran Islam itu mampu diwujudkan untuk menguatkan persaudaraan, menebarkan kemanfaatan, dan menghadirkan rahmat bagi seluruh alam semesta.(L/ANT)

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel