Oleh : Muhamad Randa Damaling
Opini— Di tengah kemajuan kedokteran modern, sebuah tradisi lama di tengah masyarakat Bolaang Mongondow masih menyimpan pertanyaan penting: bagaimana manusia pada masa lalu memahami sakit, sehat, lingkungan, dan hubungan sosial?
Pertanyaan itu membawa kita pada Motayok, tradisi masyarakat Bolaang Mongondow yang dikenal di wilayah Bilalang, Sulawesi Utara.
Motayok bukan sekadar ritual pengobatan tradisional. Di dalamnya terdapat tari Tayok, musik, lantunan syair, sesajian, serta peran tokoh adat yang disebut bolian. Ada pula mokokapoi dan monenden atau totenden yang memiliki peran masing-masing dalam rangkaian ritual.
Kajian menunjukkan bahwa Motayok dapat dibaca lebih luas sebagai sebuah sistem pengetahuan budaya. Ia menyimpan cara masyarakat memaknai kesehatan, lingkungan, leluhur, solidaritas, sekaligus identitas budaya.
Sakit Tidak Selalu Dipandang Sebagai Urusan Tubuh
Dalam pandangan masyarakat pendukung Motayok, sakit tidak semata-mata ditempatkan sebagai persoalan biologis.
Penelitian yang dirujuk dalam kajian tersebut mencatat adanya konsep lokal seperti takit bonu baloi, yakni penyakit yang diperoleh di dalam rumah, dan takit kon dalan, penyakit yang diperoleh dalam perjalanan.
Konsep itu menarik jika dibaca melalui perspektif ilmu pengetahuan.
Masyarakat tradisional tampaknya tidak memisahkan manusia dari ruang hidupnya. Rumah, perjalanan, hutan, keluarga, bahkan hubungan dengan leluhur menjadi bagian dari cara mereka memahami kondisi manusia.
Dalam bahasa sains modern, tentu saja konsep tersebut tidak dapat langsung diperlakukan sebagai penjelasan medis mengenai penyebab penyakit. Namun, secara antropologis, ia menunjukkan sesuatu yang penting: masyarakat memiliki sistem pengetahuan sendiri untuk menjelaskan pengalaman hidup yang mereka hadapi.
Di sinilah Motayok menjadi menarik.
Ia bukan sekadar pertunjukan budaya masa lalu, melainkan rekaman tentang bagaimana sebuah komunitas membangun pengetahuan berdasarkan pengalaman kolektif.
Pengetahuan yang Tidak Hanya Dibaca, tetapi Dijalani
Pengetahuan Motayok diwariskan bukan terutama melalui buku.
Ia hidup melalui pengalaman, keterlibatan sosial, bahasa, gerakan tari, musik, syair, simbol, dan praktik ritual.
Seorang pelaku tidak cukup hanya mengetahui nama atau urutan ritual. Ia harus memahami tata cara, bahasa, gerakan, simbol, serta etika yang menyertainya.
Kajian tersebut menyebutnya sebagai pengetahuan yang embodied—pengetahuan yang melekat pada tubuh, pengalaman, dan praktik.
Dalam perspektif filsafat sains, ini membuka pembahasan tentang epistemologi: dari mana manusia memperoleh pengetahuan dan bagaimana pengetahuan itu diwariskan?
Sains modern mengandalkan observasi terukur, pengujian, pembuktian, dan replikasi. Pengetahuan tradisional seperti Motayok memiliki mekanisme berbeda. Ia bertumpu pada pengalaman kolektif, pewarisan antargenerasi, pengamatan terhadap lingkungan, dan partisipasi dalam praktik sosial.
Keduanya tidak harus dipertentangkan. Namun, keduanya juga tidak boleh disamakan. Inilah titik pentingnya.
Melestarikan Motayok tidak berarti membuktikan bahwa seluruh klaim pengobatannya telah memenuhi standar medis modern. Kajian tersebut secara tegas menempatkan layanan kesehatan modern dan tenaga kesehatan sebagai rujukan utama dalam persoalan medis.
Di Balik Ritual, Ada Solidaritas
Ada satu aspek Motayok yang justru terasa sangat modern: penyakit seseorang menjadi perhatian komunitas.
Motayok merupakan praktik komunal. Keluarga, tokoh adat, pelaku seni, dan masyarakat dapat terlibat dalam persiapan maupun pelaksanaan ritual.
Ketika seseorang sakit, ia tidak sepenuhnya menghadapi persoalan itu seorang diri. Ada keluarga yang berkumpul, masyarakat yang membantu, dan dukungan emosional yang diberikan.
Bila ritualnya berubah atau bahkan tidak lagi dipraktikkan, nilai sosial semacam ini sebenarnya masih dapat dipertahankan.
Dalam kehidupan sekarang, bentuknya dapat berupa pendampingan keluarga terhadap pasien, kepedulian kepada tetangga yang mengalami kesulitan, maupun penguatan komunitas.
Dengan kata lain, mungkin yang perlu diwariskan bukan seluruh bentuk masa lalunya, melainkan nilai yang masih relevan untuk masa kini.
Ketika Alam Menjadi Bagian dari Pengetahuan Kesehatan
Motayok juga menyimpan perspektif ekologis.
Pengelompokan pengalaman sakit berdasarkan rumah, perjalanan, dan hutan memperlihatkan bahwa ruang lingkungan memiliki posisi penting dalam cara masyarakat memahami kehidupan.
Kajian mengenai Motayok di Bilalang bahkan melihat ritual tersebut sebagai bagian dari upaya memulihkan keakraban manusia dengan alam dan leluhur.
Jika diterjemahkan ke dalam bahasa pendidikan modern, gagasan itu dapat dikembangkan menjadi kesadaran ekologis: menjaga kebersihan rumah, menghormati ruang hidup, merawat hutan, dan tidak merusak lingkungan.
Di titik ini, tradisi lama justru dapat memberikan pertanyaan kepada manusia modern.
Apakah kemajuan teknologi membuat manusia semakin memahami alam, atau justru semakin jauh darinya?
Motayok mungkin tidak memberikan jawaban ilmiah atas seluruh persoalan tersebut. Tetapi ia menawarkan sebuah cara pandang: manusia tidak berdiri di luar alam.
Antara Pelestarian dan Sikap Kritis
Tantangan terbesar Motayok bukan hanya soal apakah tradisi itu masih dilakukan.
Yang lebih mendasar adalah apakah pengetahuan di baliknya masih dipahami.
Kajian tersebut mencatat bahwa Motayok semakin jarang dilakukan. Jumlah pelaku terbatas, makna simbol mulai sulit ditelusuri, dan perubahan cara pandang keagamaan turut memengaruhi keberlangsungannya.
Ada pula risiko lain: Motayok dapat kehilangan makna apabila hanya dipertontonkan sebagai tari atau pertunjukan seni.
Ketika syair dipisahkan dari konteksnya, simbol kehilangan maknanya, dan ritual hanya menjadi tontonan, yang tersisa mungkin hanya bentuk luarnya.
Karena itu, pelestarian budaya tidak cukup dengan mengadakan pertunjukan.
Budaya perlu didokumentasikan, dipelajari, dan dipahami.
Tetapi proses tersebut juga harus dilakukan secara etis. Tidak semua bagian tradisi dapat dibuka kepada publik. Ada batas antara aspek yang bersifat publik dan aspek yang sakral. Hak komunitas pemilik budaya harus dihormati.
Membawa Motayok ke Ruang Kelas
Salah satu jalan untuk menjaga keberlanjutan Motayok adalah pendidikan.
Tradisi ini dapat menjadi sumber pembelajaran Bahasa Indonesia melalui syair dan wawancara, pembelajaran sejarah melalui sejarah masyarakat Bolaang Mongondow, seni budaya melalui tari dan musik, serta literasi sains melalui perbandingan kritis antara pengetahuan lokal dan pengetahuan medis.
Peserta didik bahkan dapat melakukan proyek dokumentasi budaya: mewawancarai tokoh adat, merekam syair dan musik dengan izin, menelusuri sejarah, memeriksa informasi dari berbagai sumber, kemudian menyusunnya menjadi arsip digital.
Dengan demikian, siswa tidak sekadar menghafal bahwa Motayok adalah tradisi daerah.
Mereka belajar bertanya.
Dari mana pengetahuan itu berasal? Mengapa masyarakat mempercayainya? Apa nilai sosialnya? Apa yang dapat dipertahankan? Apa yang harus diuji secara ilmiah? Dan bagaimana sebuah tradisi dapat dihormati tanpa kehilangan sikap kritis?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang membuat budaya bertemu dengan sains.
Motayok dan Masa Depan Pengetahuan Lokal
Pada akhirnya, Motayok menghadirkan sebuah pelajaran yang lebih besar daripada ritual itu sendiri.
Sebuah masyarakat menyimpan pengetahuan bukan hanya di dalam buku, laboratorium, atau ruang kelas. Pengetahuan juga dapat hidup dalam syair, gerakan tari, musik, bahasa, simbol, pengalaman kolektif, dan hubungan manusia dengan lingkungannya.
Namun, penghormatan terhadap pengetahuan lokal tidak berarti menerima semua klaim secara tanpa kritik.
Justru di situlah kedewasaan berpikir diperlukan.
Tradisi dapat dihormati sebagai warisan budaya, sementara klaim medis tetap diuji berdasarkan standar ilmiah. Nilai solidaritas dapat diwariskan tanpa harus mengabaikan perkembangan kedokteran. Hubungan manusia dengan alam dapat dipelihara tanpa harus mengubah keyakinan budaya menjadi kesimpulan ilmiah.
Motayok, dengan demikian, bukan hanya cerita tentang masa lalu.
Ia adalah pintu untuk memahami bagaimana sebuah komunitas membangun pengetahuan tentang dirinya sendiri.
Dan ketika sebuah tradisi mulai menghilang, yang hilang bukan sekadar sebuah ritual.
Bisa jadi, yang ikut menghilang adalah bahasa, syair, simbol, seni, sejarah, dan cara sebuah masyarakat memahami hubungan antara manusia dan alam.
Karena itu, melestarikan Motayok bukan berarti membekukan masa lalu.
Melestarikannya berarti memastikan pengetahuan yang terkandung di dalamnya tetap dapat dipelajari secara kritis, etis, dan kontekstual oleh generasi yang hidup jauh setelah para pewaris awalnya tiada.













