Hibata.id, Bolmut – Di balik cepatnya layanan rujukan pasien, ada satu hal yang mulai luput dari perhatian: kondisi ambulans yang terus bekerja tanpa henti.
RSUD Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) saat ini mengandalkan tiga unit ambulans untuk melayani masyarakat.
Ketiganya masih aktif digunakan, namun data terbaru menunjukkan angka pemakaian yang tidak bisa dianggap biasa.
Ambulans pertama, jenis double cabin bernomor DB 9106 H, sudah beroperasi sejak 2018.
Hingga 17 April 2026, kendaraan berbahan bakar diesel ini tercatat telah menempuh jarak 231.533 kilometer—jarak yang mencerminkan tingginya mobilitas layanan kesehatan di daerah tersebut.
Belum berhenti di situ, ambulans kedua justru mencatat angka lebih tinggi.
Unit single cabin bernomor DB 9105 H, yang juga mulai digunakan pada 2018, telah menempuh 259.736 kilometer per 20 April 2026.
Angka ini menjadikannya sebagai kendaraan dengan penggunaan paling intens di antara ketiganya.
Sementara itu, ambulans ketiga tergolong lebih baru. Unit Isuzu bernomor DB 9235 ini mulai beroperasi pada 2020.
Meski demikian, jarak tempuhnya sudah mencapai 96.257 kilometer hingga 18 April 2026—angka yang tetap menunjukkan aktivitas layanan yang padat.
Data tersebut menggambarkan satu hal: ambulans menjadi tulang punggung layanan rujukan pasien di Bolmut.
Hampir setiap hari, kendaraan ini bergerak, menjangkau berbagai wilayah demi memastikan pasien mendapatkan penanganan yang dibutuhkan.
Namun, di balik peran vital itu, muncul kekhawatiran dari masyarakat.
Seorang warga menilai usia kendaraan dan tingginya jarak tempuh berpotensi memengaruhi kinerja ambulans di lapangan.
“Kalau dilihat, dua unit sudah berumur sekitar delapan tahun dengan jarak ratusan ribu kilometer. Satu lagi juga sudah cukup lama dipakai. Jadi wajar kalau mulai sering ada kendala,” ujarnya, Senin (27/4/2026).
Kondisi ini, menurut dia, bukan sekadar soal kendaraan, tetapi menyangkut keselamatan dan kecepatan layanan bagi pasien yang membutuhkan rujukan segera.
Ia pun berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret.
“Kalau bisa, sudah saatnya ada ambulans baru. Supaya pelayanan tetap lancar dan masyarakat tidak khawatir,” katanya.
Di tengah tingginya kebutuhan layanan kesehatan, pertanyaan pun muncul: sampai kapan ambulans-ambulans ini terus dipacu tanpa pembaruan?












