Hibata.id – Setiap tanggal 10 Muharram, aroma kue Apangi memenuhi sudut-sudut Kelurahan Dembe 1, Kota Gorontalo. Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun itu kini menjelma menjadi Festival Apangi, sebuah perayaan budaya yang bukan hanya mempertahankan warisan leluhur, tetapi juga memperkuat kebersamaan masyarakat.
Tahun 2026 menandai penyelenggaraan Festival Apangi yang ke-11. Dalam satu dekade terakhir, tradisi yang semula tumbuh sebagai kebiasaan masyarakat lokal itu berkembang menjadi agenda budaya yang dikenal luas dan selalu dinanti warga maupun pengunjung dari berbagai daerah.
Festival ini berakar dari kebiasaan masyarakat Dembe 1 dalam memaknai kalender Hijriah. Jika pergantian tahun Masehi diperingati setiap 1 Januari, warga Dembe 1 memilih merayakan datangnya 10 Muharram dengan membuat dan menyajikan kue Apangi sebagai simbol rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap nilai-nilai keagamaan.
Apangi merupakan kuliner tradisional khas Gorontalo yang diwariskan secara turun-temurun. Dahulu, kue ini hanya dibuat dengan warna putih. Namun seiring waktu, masyarakat mengembangkannya menjadi beragam warna yang semakin memperkuat identitas Apangi sebagai kuliner khas Dembe 1.
Keistimewaan Festival Apangi tidak hanya terletak pada kuenya, tetapi juga pada semangat gotong royong yang menjadi fondasi penyelenggaraannya. Selama 11 tahun, festival ini berjalan tanpa kepanitiaan formal. Seluruh proses berlangsung secara swadaya dengan pembagian peran yang telah menjadi tradisi di tengah masyarakat.
Kaum ibu bertanggung jawab menyiapkan bahan dan mengolah ribuan kue Apangi. Ketua RT dan RW mengoordinasikan penyampaian informasi kepada warga, sementara para pemuda mengambil peran mengatur lalu lintas, menjaga keamanan, serta memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib.
Semangat kebersamaan itu tetap terjaga bahkan saat masyarakat menghadapi masa-masa sulit. Ketika pandemi Covid-19 melanda, Festival Apangi tetap dilaksanakan dengan menyesuaikan protokol kesehatan.
Begitu pula saat banjir besar menerjang Dembe 1 pada 2022. Tradisi tidak dihentikan. Para pemuda justru turun langsung mengantarkan kue Apangi ke rumah-rumah warga yang terisolasi akibat genangan air sehingga seluruh masyarakat tetap dapat merasakan kebersamaan di hari yang dianggap istimewa tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kota Gorontalo mulai memberikan dukungan sebagai bentuk apresiasi terhadap kemandirian masyarakat menjaga tradisi. Salah satunya melalui penyelenggaraan pasar murah menjelang festival untuk membantu warga memperoleh bahan baku pembuatan Apangi dengan harga lebih terjangkau.
Festival Apangi juga dikenal dengan filosofi “Monga, Moduhengo, Boli Modelo”, yang berarti bisa makan di tempat, bisa menambah, dan bisa membawa pulang. Filosofi ini mencerminkan keramahan masyarakat Dembe 1 yang membuka pintu bagi siapa saja untuk menikmati Apangi secara cuma-cuma.
Tradisi berbagi tersebut menjadikan Festival Apangi bukan sekadar pesta kuliner, melainkan simbol persaudaraan, gotong royong, dan penghormatan terhadap warisan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat.
Dengan semangat itu, Kelurahan Dembe 1 semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Kota Gorontalo, tempat tradisi, religi, dan kebersamaan berpadu dalam satu perayaan yang terus lestari dari generasi ke generasi.













