Hibata.id – Di tengah krisis air bersih dan kerusakan lingkungan yang semakin parah di wilayah Pohuwato, mafia tambang emas ilegal berusaha menutupi jejak kejahatan mereka. Mereka melakukan aksi berbagi takjil untuk menyembunyikan dampak kerusakan lingkungan yang telah ditimbulkan.
Lebih ironisnya, kelompok ini mengatasnamakan masyarakat untuk memperkuat legitimasi kepentingan mereka. Padahal, yang menjadi korban utama dari aktivitas ilegal ini justru rakyat yang menderita akibat kerusakan tersebut.
Syahril Razak, Koordinator Aliansi Masyarakat Melawan (AMM), mengkritik keras acara “Berbagi Takjil Rakyat Penambang” yang berkolaborasi dengan Taruna Pohuwato. Ia menyebut acara tersebut sebagai taktik manipulatif untuk mengelabui publik dan bukan aksi sosial yang tulus.
Kebanyakan peserta yang hadir dalam acara tersebut merupakan mahasiswa atau orang-orang yang diundang tanpa pemahaman mengenai masalah yang sebenarnya. Setelahnya, mereka diklaim sebagai pendukung tambang ilegal, seolah ada persetujuan masyarakat terhadap kerusakan yang terjadi.
Syahril dengan tegas mengecam aksi mafia tambang yang memanfaatkan organisasi masyarakat untuk pembenaran kepentingan mereka. “Rakyat sudah cukup menderita akibat kerusakan lingkungan, namun mereka masih dimanfaatkan demi kepentingan pribadi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa organisasi yang seharusnya menjaga kelestarian lingkungan malah diperalat untuk menutupi kejahatan tersebut. “Kami menantang mereka untuk turun langsung ke lapangan dan melihat sendiri bagaimana rakyat menderita akibat kerusakan lingkungan,” kata Syahril.
Syahril juga mendesak Aparat Penegak Hukum (APH), khususnya Kapolda Gorontalo dan Kapolres Pohuwato, untuk bertindak tegas terhadap pelaku perusakan lingkungan. “Pembiaran terhadap praktik ilegal ini sudah cukup, jika hukum tidak bertindak, rakyat yang akan turun tangan,” tegasnya dengan penuh amarah.
Menurutnya, kejahatan tambang ilegal bukan sekadar masalah ekonomi, tetapi juga ancaman nyata bagi kehidupan masyarakat. Krisis air bersih, tanah longsor, dan pencemaran lingkungan harus segera ditanggapi dengan serius.
Syahril menegaskan bahwa mafia tambang dan kaki tangannya tidak boleh dibiarkan terus beraksi dengan kedok kegiatan sosial. Pohuwato kini sedang menghadapi darurat ekologis, dan jika tidak segera bertindak, kehancuran akan semakin nyata.
“Pohuwato kini tengah menghadapi darurat ekologis. Saatnya semua pihak bersatu, melawan mafia tambang, dan menuntut keadilan yang sesungguhnya,” tegasnya.