Hibata.id – Hal ini mencuat setelah Ketua DPC Partai Hanura Buton Tengah, Fifin Supiandi, menyatakan mundur.
Dirinya mundur dari kepengurusan setelah kecewa dengan sikap DPP dalam Musda yang digelar di Kendari.
Fifin mengungkapkan, kekecewaannya muncul karena DPP Hanura tidak mengundang mantan Ketua DPD Hanura Sultra, Wa Ode Nurhayati (Won), dalam forum Musda meski statusnya sudah demisioner.
“Minimal ada etikanya. Jika Musda digelar, mestinya Ibu Won tetap diundang, paling tidak untuk mendengarkan pertanggungjawaban beliau,” kata Fifin saat ditemui awak media, Jumat (21/8/2025) malam.
Menurut Fifin, sosok Wa Ode Nurhayati punya andil besar dalam membesarkan Hanura di Sultra.
Selama dua periode memimpin, Won dinilai berhasil mengangkat suara partai hingga hasil Pemilu 2024 lalu.
“DPP tidak mengundang beliau, padahal semua orang tahu jasanya. Saya heran dengan sikap seperti ini,” tegasnya.
Ia memastikan, langkah mundurnya bukan karena terpilihnya Fajar Ishak sebagai ketua baru pengganti Wa Ode Nurhayati.
Alasannya murni karena sikap DPP yang dianggap menutup mata terhadap perjuangan mantan ketua DPD.
“Di Buton Tengah, awalnya kami non-seat. Tapi akhirnya berhasil mendapatkan kursi berkat perjuangan bersama Ibu Won,” jelasnya.
Tak hanya itu, lanjut Fifin, DPP juga tidak mengindahkan usulan sembilan DPC yang sudah menandatangani surat dukungan agar Wa Ode Nurhayati kembali maju sebagai ketua Hanura Sultra.
“Itu salah satu syarat pencalonan kembali. Artinya, Ibu Won sudah mengantongi dukungan lebih dari 50 persen. Harusnya DPP memperhatikan hal itu. Saya melihat DPP terlalu arogan dalam mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan suara DPC. Inilah salah satu alasan saya mundur,” bebernya.
Ia menilai, langkah DPP yang tidak mengakomodasi aspirasi sembilan DPC sebagai bentuk sikap yang jauh dari etika berorganisasi.
“DPC adalah ujung tombak partai. Kepada Ibu Won, kami sampaikan terima kasih karena telah membersamai kami selama ini,” tutup Fifin.













