Hibata.id – Penundaan rilis laporan utama penggajian non-pertanian Amerika Serikat (AS) membuat investor beralih pada sejumlah indikator alternatif yang menunjukkan pasar tenaga kerja mulai melambat.
Kondisi ini memperkuat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan penurunan suku bunga acuan oleh Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.
Menurut data CME Group FedWatch, investor memperkirakan peluang penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober mencapai 97 persen, sementara potensi penurunan serupa pada Desember sebesar 85 persen.
Dalam situasi ketidakpastian global, emas kembali menjadi aset lindung nilai yang menarik. Logam mulia ini dikenal tumbuh subur di tengah tren suku bunga rendah dan sepanjang tahun 2025 telah meningkat lebih dari 47 persen.
Lembaga keuangan UBS dalam catatannya memperkirakan harga emas dunia dapat menembus 4.200 dolar AS per troy ounce dalam beberapa bulan mendatang.
Kenaikan tersebut didorong oleh penurunan suku bunga riil di AS yang menurunkan biaya peluang memegang emas, serta ekspektasi pelemahan nilai tukar dolar AS.
“Biaya peluang memegang emas menurun seiring penurunan suku bunga riil di Amerika Serikat, sementara pelemahan dolar menjadi katalis tambahan bagi kenaikan harga emas,” tulis UBS dalam laporan risetnya.
Seiring sentimen positif global tersebut, harga emas perhiasan di pasar domestik turut mengalami penguatan. Berdasarkan pemantauan pada Sabtu (4/10/2025), berikut pergerakan harga emas di sejumlah toko emas nasional:
Laku Emas mencatat kenaikan harga jual emas perhiasan seiring menguatnya harga internasional.
Raja Emas Indonesia juga melaporkan tren serupa dengan peningkatan permintaan masyarakat terhadap logam mulia.
Analis memproyeksikan harga emas di pasar lokal akan tetap bergerak positif hingga akhir tahun apabila arah kebijakan moneter AS benar-benar melonggar.















