Hibata.id – Jeruji besi tak mematikan kreativitas Zul Zivilia. Dari balik tembok lembaga pemasyarakatan, vokalis band Zivilia itu kembali merawat api bermusik yang sejak lama hidup dalam dirinya.
Kali ini, ia merilis lagu terbaru berjudul “Sabar-Sabar Ade”, sebuah kolaborasi lintas lapas bersama Putri Ajeng alias PJ, eks personel girlband 7Icons.
Kolaborasi ini bukan sekadar proyek musik. Ada kenangan lama yang ikut berputar bersama nadanya. Zul dan PJ pernah berada di fase yang sama: sama-sama merintis karier, sama-sama mondar-mandir di panggung acara musik televisi pada pagi hari.
“Dulu kita sering banget ketemu di acara musik. Jadi pas ada kesempatan kolaborasi ini, rasanya kayak nostalgia panggung, tapi bedanya sekarang kita di belakang tembok,” kata Zul Zivilia.
Keistimewaan proyek ini terletak pada jarak yang memisahkan keduanya. PJ kini menjalani masa hukuman di Lapas Kelas IIA Tangerang.
Sementara Zul berada di Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur, Bogor. Dua tempat berbeda, dua wilayah kerja berbeda, namun dipertemukan oleh musik.
“Rekamannya luar biasa, satu hari kelar secara dadakan. Pagi kita take vocal, siangnya langsung syuting video klip di sini. Memang agak ribet koordinasi antar dua Kanwil yang berbeda, tapi Alhamdulillah berkat dukungan pimpinan semuanya lancar,” jelas Zul.
Lagu “Sabar-Sabar Ade” sendiri berkisah tentang sepasang kekasih yang sedang berjuang menuju hubungan yang lebih serius.
Jarak, waktu, dan godaan menjadi ujian. Namun sang lelaki meyakinkan pasangannya untuk tetap setia menunggu hingga tiba saatnya melamar.
Untuk lagu ini, Zul memilih jalur berbeda. Ia memasukkan warna musik Indonesia Timur yang ritmis dan enerjik—gaya yang belakangan banyak digemari pendengar.
“Genre musiknya sengaja saya bikin agak beda, ngikutin perkembangan di luar. Ya meski saya lagi di dalam begini saya tetap mengamati juga musik yang lagi tren di luar,” ujar Zul.
Bagi PJ, kolaborasi ini membawa makna tersendiri. Ia melihat langsung bagaimana lembaga pemasyarakatan menjadi ruang pembinaan, bukan sekadar tempat menjalani hukuman.
“Di sini aku merasa gak kayak di film-film yang orang bayangkan. Jadwalku padat banget, ada menari, menyanyi, sampai pembinaan kepribadian. Malah lebih sibuk daripada waktu aku masih di 7Icons dulu,” kata PJ.
Pengalaman serupa juga dirasakan Zul. Ia bersyukur pihak Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur memberi ruang bagi warga binaan untuk tetap produktif.
Bahkan, fasilitas studio musik kini tersedia dan bisa digunakan untuk berkarya.
“Memang ada alat-alat yang sudah ada sebelumnya, tapi saya juga nyumbang alat seperti speaker dan komputer pribadi saya biar lebih enak buat produksi musik,” katanya.
Zul saat ini menjalani hukuman 18 tahun dalam kasus narkoba. Sementara PJ baru memasuki tahun pertama dari vonis 3,5 tahun yang dijalaninya.
Namun di balik masa pembinaan itu, keduanya menyimpan harapan yang sama: kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik.
“Saya terus belajar buat memperbaiki diri. Lewat musik dan bimbingan di sini, saya ingin membuktikan kalau saya bisa jadi orang yang lebih baik lagi saat nanti kembali ke masyarakat,” tutup Zul, diamini PJ.















