Hibata.id, Bintauna – Harapan besar pernah disematkan pada Pasar Rakyat di Kecamatan Bintauna.
Dibangun sejak 2016 dengan anggaran miliaran rupiah, pasar ini diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi warga.
Namun hingga kini, suasana yang tampak justru jauh dari kata ramai.
Pantauan di lokasi, Minggu (26/4/2026), deretan kios terlihat kosong. Sebagian bahkan seperti tak pernah tersentuh aktivitas jual beli.
Atap di beberapa titik mulai bocor, dinding memudar, dan area sekitar dipenuhi semak serta sampah.
Alih-alih menjadi pusat perputaran ekonomi, bangunan ini kini lebih sering tampak lengang.
“Dari dulu tidak pernah benar-benar hidup. Sekarang malah makin sepi,” kata seorang warga setempat.
Warga menilai lokasi yang kurang strategis dan akses yang belum mendukung menjadi penyebab utama pasar ini sulit berkembang.
Di sisi lain, pedagang tetap memilih berjualan di tempat lama yang dinilai lebih ramai dan mudah dijangkau pembeli.
Situasi ini membuat keberadaan pasar terkesan berjalan di tempat. Padahal, fasilitas yang dibangun dengan anggaran besar seharusnya mampu memberi dampak nyata bagi ekonomi lokal.
Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dikhawatirkan akan terus menurunkan kualitas bangunan sekaligus nilai manfaatnya bagi masyarakat.
Warga pun berharap pemerintah daerah tidak tinggal diam. Perbaikan fasilitas, penataan ulang kawasan, hingga strategi menarik pedagang dan pembeli dinilai perlu segera dilakukan agar pasar ini benar-benar berfungsi.
Sebagai informasi, Pasar Rakyat Bintauna mulai dibangun pada Juni 2016 dengan pagu anggaran sekitar Rp7 miliar dan dikerjakan oleh PT Karunia Jaya Sejati.












