Hibata.id, Gorontalo – Nama Fahrudin Salilama mulai mencuri perhatian dalam bursa Ketua Ikatan Alumni (IKA) FISIP Universitas Ichsan Gorontalo.
Dukungan pun terus berdatangan, salah satunya dari Faisal Hasania yang menilai Fahrudin sebagai figur pemersatu lintas generasi.
Faisal tidak ragu menyebut Fahrudin sebagai sosok dengan “modal lengkap” untuk menghidupkan kembali peran alumni.
Menurut dia, kekuatan utama Fahrudin bukan hanya pengalaman organisasi, tetapi juga kemampuannya menjaga hubungan dengan berbagai angkatan—dari senior hingga mahasiswa aktif.
“Tidak banyak orang yang bisa tetap dekat dengan lintas generasi. Fahrudin punya itu,” kata Faisal, Senin (1/4/2026).
Kedekatan tersebut dinilai menjadi kunci penting untuk membangun IKA FISIP yang lebih solid dan tidak terkotak-kotak oleh perbedaan angkatan.
Tak hanya itu, Fahrudin juga dikenal memiliki hubungan yang baik dengan dosen. Faisal menilai hal ini sebagai nilai tambah yang jarang dimiliki calon lainnya.
“Alumni itu tidak bisa jalan sendiri. Harus ada komunikasi yang kuat dengan kampus, dan Fahrudin sudah punya jalurnya,” ujarnya.
Faisal melihat peluang besar jika Fahrudin memimpin. Ia meyakini organisasi alumni bisa lebih aktif, terarah, dan memberi dampak nyata, bukan sekadar formalitas.
“Dia punya jaringan, punya cara komunikasi yang baik, dan paham kultur organisasi di FISIP,” katanya.
Pengalaman organisasi Fahrudin sejak mahasiswa juga menjadi sorotan. Rekam jejak itu dianggap sebagai bukti kesiapan memimpin.
“Secara kapasitas, dia bukan orang baru. Jadi tidak perlu diragukan lagi,” tegas Faisal.
Hubungan personal keduanya pun sudah terjalin lama. Faisal mengaku memahami betul karakter Fahrudin, terutama dalam membangun relasi.
“Saya tahu cara dia bekerja dan berkomunikasi. Itu yang membuat saya yakin,” ujarnya.
Di tengah dinamika pemilihan Ketua IKA FISIP Universitas Ichsan Gorontalo, Faisal berharap sosok yang terpilih nantinya mampu merangkul semua pihak.
Baginya, kebutuhan utama organisasi alumni saat ini bukan sekadar pemimpin, tetapi figur yang bisa menyatukan.
“IKA FISIP butuh pemersatu. Dan saya melihat itu ada pada Fahrudin Salilama,” kata Faisal.













