Hibata.id – Wali Kota Gorontalo Adhan Dambea kembali menyoroti persoalan tata kelola di lingkungan rumah sakit daerah, khususnya terkait dugaan penggelembungan harga pengadaan alat kesehatan (alkes).
Adhan mengungkapkan, hasil evaluasi Pemerintah Kota Gorontalo menemukan adanya selisih signifikan antara harga riil pengadaan dan nilai yang diajukan dalam proses anggaran.
“Harga alkes itu hanya sekitar Rp9 miliar, tapi dibuat Rp14 miliar. Parahnya lagi, nama saya dicatut,” ungkapnya.
Ia menegaskan tidak akan mentolerir praktik yang merugikan daerah maupun mencoreng tata kelola pelayanan kesehatan. Menurutnya, sejumlah pihak yang terlibat telah diberikan sanksi tegas sebagai bagian dari upaya pembenahan internal.
Pada Senin, 25 Mei 2026, Adhan juga memberikan pengarahan kepada manajemen, tenaga kesehatan (nakes), hingga para dokter di lingkungan rumah sakit daerah.
Dalam arahannya, ia meminta seluruh aparatur di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe dan RSUD Otanaha untuk bekerja secara jujur dan profesional, terutama dalam pengelolaan administrasi serta pengadaan barang dan jasa.
Menurutnya, integritas aparatur menjadi kunci utama dalam memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Adhan juga mengingatkan para dokter agar tetap fokus pada pelayanan medis dan tidak ikut mencampuri urusan manajemen rumah sakit, khususnya yang berkaitan dengan pengadaan maupun kerja sama dengan vendor.
“Saya tidak pernah masuk ke urusan teknis dokter. Para dokter juga jangan masuk ke urusan manajemen, itu urusan saya,” tegasnya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah berkomitmen membangun sistem pelayanan rumah sakit yang bersih, sehat, dan profesional tanpa intervensi kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu.
“Saya sudah bilang, saya tidak akan masuk ke urusan teknis dokter. Dokter jangan masuk ke persoalan manajemen, apalagi sudah berhubungan dengan vendor terkait pengadaan di rumah sakit,” lanjutnya.
Wali kota dua periode itu memastikan dirinya tidak memiliki kepentingan pribadi dalam proses pembenahan rumah sakit daerah.
“Saya tidak punya kepentingan, apalagi keuntungan pribadi. Yang saya mau, RSAS jadi baik. Karena rumah sakit merupakan pintu masuk, bahkan sorotan utama pelayanan pemerintah kepada warga,” pungkasnya.













