Hibata.id, Gorontalo – Kalau biasanya yang bikin kaget saat ke warung adalah harga cabai, kali ini warga Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) dibuat geleng-geleng kepala oleh harga bahan bakar minyak (BBM) eceran yang terus merangkak naik.
Dalam beberapa hari terakhir, harga BBM eceran di sejumlah wilayah Bolmut mengalami lonjakan cukup tajam.
Warga bahkan mulai berseloroh bahwa Pertamax kini sudah masuk kategori “barang mewah” karena harganya yang bikin dompet ikut sesak napas.
Di Kecamatan Bintauna, harga Pertamax eceran dilaporkan mencapai Rp17.000 untuk satu botol ukuran besar bekas minuman ringan.
Sementara untuk botol ukuran besar bekas air mineral, harganya sudah menyentuh Rp27.000.
“Pertamax sekarang Rp17 ribu satu botol ukuran besar. Kalau yang botol air mineral besar sudah Rp27 ribu,” kata seorang warga Bintauna yang memilih tidak disebutkan namanya, Senin (1/6/2026).
Kenaikan harga tersebut diduga dipicu oleh terbatasnya pasokan BBM di sejumlah wilayah.
Akibatnya, masyarakat yang membutuhkan bahan bakar untuk beraktivitas sehari-hari tidak punya banyak pilihan selain membeli dengan harga yang lebih tinggi.
Bagi petani, nelayan, hingga pelaku usaha kecil, kondisi ini tentu bukan kabar yang menyenangkan.
Sebab, ketika harga BBM naik, biaya operasional ikut menanjak. Ujung-ujungnya, pengeluaran rumah tangga pun ikut terdorong naik.
Tak hanya di Bintauna, warga Kecamatan Bolangitang Timur juga merasakan hal serupa.
Di wilayah tersebut, harga BBM eceran disebut-sebut sudah berada di kisaran Rp25.000 hingga Rp30.000 per botol, tergantung lokasi dan ketersediaan stok.
“Kalau begini terus, bukan cuma motor yang haus BBM, masyarakat juga ikut pusing memikirkan biayanya,” ujar seorang warga sambil tertawa kecil.
Warga berharap pemerintah daerah bersama pihak terkait segera mengambil langkah untuk memastikan distribusi BBM berjalan lancar dan pasokan kembali stabil.
Mereka juga meminta pengawasan lebih ketat agar harga di tingkat pengecer tidak terus melonjak.
Sementara itu, hingga awal Juni 2026, harga BBM eceran di sejumlah wilayah Bolmut masih bervariasi.
Perbedaan harga dipengaruhi oleh kondisi stok, akses distribusi, serta tingkat ketersediaan BBM di masing-masing daerah.
Bagi masyarakat, harapannya sederhana: antre boleh, asal BBM ada.
Harga naik sedikit masih bisa dimaklumi, asalkan tidak sampai membuat isi dompet lebih cepat kosong daripada tangki kendaraan.













