Hibata.id, Surabaya – Sebuah foto yang lahir dari tragedi di jalanan Surabaya berhasil mengukir sejarah bagi dunia jurnalistik Indonesia.
Karya fotografer Jawa Pos, Sholihuddin, yang merekam detik-detik evakuasi korban kecelakaan truk pengangkut suporter Bonek pada 17 Mei 1995, sukses meraih penghargaan tertinggi World Press Photo 1996 kategori Spot News.
Penghargaan tersebut menjadi pencapaian bersejarah karena untuk pertama kalinya fotografer Indonesia berhasil menjadi juara dalam ajang foto jurnalistik paling bergengsi di dunia.
Foto itu lahir dari peristiwa nahas yang terjadi usai pertandingan Persebaya Surabaya melawan PSIS Semarang.
Saat itu, sebuah truk yang mengangkut ratusan suporter Bonek mengalami kelebihan muatan dan kehilangan kendali sebelum akhirnya terguling di kawasan Ambengan, Surabaya.
Dalam hitungan detik, suasana berubah menjadi kepanikan. Para penumpang yang berada di atas bak truk berjatuhan ke jalan. Teriakan minta tolong terdengar di tengah kerumunan warga yang berusaha menyelamatkan korban.
Sejumlah suporter mengalami luka berat akibat tertimpa badan kendaraan. Petugas kepolisian bersama warga sekitar langsung melakukan evakuasi dan membawa korban ke RSUD Dr. Soetomo untuk mendapatkan penanganan medis.
Di tengah situasi yang penuh kekacauan itu, Sholihuddin yang sedang menjalankan tugas jurnalistik memilih tetap fokus pada kameranya.
Ia memburu momen yang tidak hanya menggambarkan tragedi, tetapi juga menunjukkan sisi kemanusiaan yang muncul di tengah bencana.
Bidikan tersebut memperlihatkan warga dan aparat yang bahu-membahu menolong korban. Tidak ada rekayasa, tidak ada pengaturan adegan.
Semua terekam apa adanya dalam satu momen yang kemudian menjadi salah satu foto jurnalistik paling ikonik dalam sejarah Indonesia.
Kekuatan foto itu tidak hanya terletak pada peristiwa yang direkam, tetapi juga pada pesan yang disampaikannya. Di balik kecelakaan yang menimbulkan korban, muncul gambaran tentang solidaritas, kepedulian, dan semangat gotong royong masyarakat.
Dunia pun memberikan pengakuan. Pada 1996, foto karya Sholihuddin dinobatkan sebagai juara pertama World Press Photo kategori Spot News, mengungguli ribuan karya dari berbagai negara.
Penghargaan tersebut menjadi tonggak penting bagi perkembangan foto jurnalistik Indonesia.
Nama Indonesia mulai diperhitungkan di panggung internasional, sementara Sholihuddin dikenang sebagai pelopor yang membuka jalan bagi generasi fotografer tanah air.
Hampir tiga dekade berlalu, foto truk Bonek terguling masih sering muncul dalam berbagai diskusi, pelatihan, hingga referensi pendidikan jurnalistik.
Karya itu menjadi contoh bagaimana sebuah foto mampu melampaui fungsi dokumentasi dan berubah menjadi catatan sejarah.
Di balik debu jalanan Surabaya dan hiruk-pikuk evakuasi korban pada hari itu, lahir sebuah karya yang membuktikan bahwa jurnalisme bukan sekadar menyampaikan fakta.
Jurnalisme juga merekam nilai-nilai kemanusiaan yang akan terus dikenang lintas generasi.












