Hibata.id, Gorontalo – Dua hari penuh diskusi, konsolidasi organisasi, pelantikan pengurus hingga berbagi pengalaman jurnalistik akhirnya mencapai puncaknya.
Temu Jurnalis Gorontalo 2026 resmi ditutup Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, Sabtu (14/6/2026) malam.
Penutupan itu sekaligus menandai berakhirnya salah satu agenda terbesar insan pers di Gorontalo tahun ini yang mempertemukan lima organisasi konstituen Dewan Pers dalam satu forum kolaborasi.
Lima organisasi tersebut yakni Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
Selama dua hari pelaksanaan, berbagai agenda strategis berlangsung secara beruntun. Mulai dari pelantikan pengurus AMSI Provinsi Gorontalo, Musyawarah Daerah dan pelantikan pengurus SMSI Gorontalo, hingga pelantikan pengurus IJTI Gorontalo.
Namun lebih dari sekadar agenda organisasi, Temu Jurnalis 2026 menjadi ruang berkumpulnya para pewarta lintas platform untuk memperkuat jejaring, bertukar gagasan, sekaligus membicarakan masa depan dunia jurnalistik di tengah derasnya arus informasi digital.
Ketua Panitia Temu Jurnalis Gorontalo, Lukman Polimengo, mengatakan kegiatan tersebut sengaja dirancang bukan hanya sebagai kegiatan seremonial, tetapi juga sebagai momentum memperkuat kebersamaan antarinsan pers di Gorontalo.
“Yang terbangun selama kegiatan ini bukan hanya agenda organisasi, tetapi juga komunikasi, silaturahmi, dan semangat untuk terus menjaga kualitas jurnalisme di daerah,” kata Lukman.
Salah satu agenda yang mendapat perhatian peserta adalah workshop jurnalistik yang melibatkan siswa dan mahasiswa. Kegiatan tersebut membuka ruang dialog antara generasi muda dengan para jurnalis yang selama ini aktif bekerja di lapangan.
Para peserta mendapatkan pengalaman langsung mengenai dunia jurnalistik, mulai dari proses peliputan, verifikasi informasi, hingga tantangan media di era digital.
Menurut Lukman, keterlibatan pelajar dan mahasiswa menjadi investasi penting bagi masa depan dunia pers.
Sebab, kualitas jurnalisme tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh regenerasi sumber daya manusia yang memahami etika dan tanggung jawab profesi.
Ia berharap semangat yang lahir dari Temu Jurnalis Gorontalo tidak berhenti setelah acara penutupan.
“Semoga kegiatan ini menjadi titik awal lahirnya kolaborasi yang lebih kuat antar media dan organisasi pers, sehingga jurnalis terus mampu menghadirkan informasi yang akurat, mencerahkan, dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Temu Jurnalis Gorontalo 2026 mungkin telah berakhir. Namun bagi insan pers yang hadir, kegiatan ini meninggalkan pesan yang jauh lebih besar: bahwa pers yang kuat lahir dari solidaritas, kolaborasi, dan komitmen bersama menjaga kualitas informasi untuk publik.












