Wisata

Duh, Pemprov Gorontalo Naikan Tarif Wisata Hiu Paus Jadi Rp 1 Juta per Orang

×

Duh, Pemprov Gorontalo Naikan Tarif Wisata Hiu Paus Jadi Rp 1 Juta per Orang

Sebarkan artikel ini
Tarif Wisata Hiu Paus Jadi Rp 1 Juta per Orang/Hibata.id
Tarif Wisata Hiu Paus Jadi Rp 1 Juta per Orang/Hibata.id

Hibata.id, Gorontalo – Setiap hari hiu paus atau whale shark di Perairan Botubarani masih menjadi favorit “bintang utama” yang dikejar kamera wisatawan.

Namun, sebelum publik mengetahui secara pasti bagaimana kondisi satwa tersebut, wacana kenaikan tarif wisata malah lebih dulu mencuat dan menjadi perhatian.

Ya, Pemerintah Provinsi Gorontalo kini mengkaji kenaikan tarif wisata Hiu Paus Botubarani, Kabupaten Bone Bolango.

Tarif yang saat ini sekitar Rp500 ribu per orang diusulkan menjadi Rp1 juta sebagai bagian dari perubahan konsep wisata massal menuju wisata premium.

Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Olahraga Provinsi Gorontalo, Sultan Kalupe, mengatakan tarif yang berlaku saat ini dinilai terlalu rendah sehingga jumlah wisatawan terus meningkat.

“Kalau boleh, hiu paus di sini naik kelas. Jadi yang sekarang bayar sekitar Rp500 ribu, saya usul naik menjadi Rp1 juta per orang.” kata Sultan.

Baca Juga:  Tips Memilih Transportasi Wisata yang Murah dan Menyenangkan 

Tak hanya tiket masuk, usulan itu juga menyentuh tarif transportasi laut.

Perahu kaca yang kini berkisar Rp550 ribu diusulkan menjadi Rp1,5 juta, sementara perahu biasa dari sekitar Rp100 ribu menjadi Rp500 ribu.

Menurut Sultan, penyesuaian tersebut bertujuan mengurangi kepadatan wisatawan tanpa menurunkan pendapatan masyarakat yang menggantungkan ekonomi dari sektor pariwisata.

“Jangan lagi menjadi wisata massal, tetapi wisata eksklusif. Pendapatannya bisa tetap sama bahkan lebih tinggi meski jumlah pengunjung berkurang.” ujarnya.

Di balik usulan tersebut, pemerintah mengaku memiliki alasan konservasi. Sultan mengatakan pihaknya menerima informasi bahwa hiu paus diduga mulai mengalami kelelahan akibat intensitas interaksi yang tinggi dengan wisatawan. Bahkan, satwa itu dilaporkan beberapa kali terlihat muntah.

Baca Juga:  Kebun Teh Medini, Surga Sejuk di Lereng Gunung Ungaran Jawa Tengah

“Kalau terlalu capek, saya khawatir nanti dia sakit, menghilang, bahkan mati. Itu yang tidak kita inginkan.” tuturnya.

Dinas Pariwisata berencana menggandeng dokter hewan dan Balai Karantina untuk memeriksa kondisi kesehatan hiu paus. Hasil pemeriksaan akan menjadi dasar dalam menentukan langkah pengelolaan destinasi tersebut.

Meski demikian, usulan kenaikan tarif juga berpotensi memunculkan pertanyaan baru dari masyarakat dan pelaku wisata.

Jika tujuan utamanya mengurangi jumlah pengunjung, apakah menaikkan harga menjadi satu-satunya solusi?.

Sebab, dalam pengelolaan destinasi berbasis konservasi, sejumlah daerah di Indonesia justru menerapkan pembatasan kuota harian.

Muai dari sistem reservasi, hingga pembagian jam kunjungan tanpa harus membuat akses wisata menjadi semakin mahal.

Pendekatan tersebut dinilai mampu menjaga keseimbangan antara konservasi satwa, keberlanjutan ekonomi masyarakat, dan kesempatan publik menikmati kekayaan alam secara bertanggung jawab.

Baca Juga:  Tarian Rangkuk Alu, Kekayaan Budaya Timur Indonesia

Sultan menegaskan Pemerintah Provinsi Gorontalo tidak akan mengambil keputusan sendiri karena pengelolaan wisata Hiu Paus Botubarani berada di tangan kelompok masyarakat.

“Yang kami tidak mau, ketika hiu paus ini sakit lalu menghilang atau mati, masyarakat juga kehilangan mata pencaharian. Karena itu harus dijaga bersama.” imbuhnya.

Ia juga menekankan bahwa angka-angka yang disampaikan saat ini masih berupa ilustrasi konsep wisata premium dan belum menjadi keputusan resmi.

Seluruh usulan masih akan dibahas bersama kelompok pengelola serta para pemangku kepentingan sebelum ditetapkan sebagai kebijakan.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel