Kota Gorontalo

Sampah Jadi Pemicu Banjir di Kota Gorontalo, Warga Diminta Berhenti Buang Limbah ke Sungai

×

Sampah Jadi Pemicu Banjir di Kota Gorontalo, Warga Diminta Berhenti Buang Limbah ke Sungai

Sebarkan artikel ini
Kepala DLH Kota Gorontalo, Lukman Kasim saat saat kegiatan silaturahmi pemerintah daerah dan sosialisasi urusan pemerintahan pembangunan dan kemasyarakatan di Kelurahan Biawu, Senin (20/7/2026) malam. (Foto: Humas)
Kepala DLH Kota Gorontalo, Lukman Kasim saat saat kegiatan silaturahmi pemerintah daerah dan sosialisasi urusan pemerintahan pembangunan dan kemasyarakatan di Kelurahan Biawu, Senin (20/7/2026) malam. (Foto: Humas)

Hibata.id – Persoalan sampah yang dibuang sembarangan ke sungai dan saluran air masih menjadi salah satu pekerjaan rumah terbesar Pemerintah Kota Gorontalo. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Gorontalo menilai rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan turut memperparah risiko banjir, terutama di wilayah yang selama ini menjadi langganan genangan seperti Kelurahan Biawu.

Kepala DLH Kota Gorontalo, Lukman Kasim, mengatakan pemerintah telah berulang kali melakukan pembersihan sungai dan kerja bakti bersama masyarakat. Namun, upaya tersebut belum akan maksimal jika masih ada warga yang menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.

“Kami berharap masyarakat mengambil bagian yang paling kecil terlebih dahulu, yakni stop membuang sampah di sungai,” tegas Lukman saat kegiatan silaturahmi pemerintah daerah dan sosialisasi urusan pemerintahan pembangunan dan kemasyarakatan di Kelurahan Biawu, Senin (20/7/2026) malam.

Menurut Lukman, pemerintah sebelumnya telah melakukan berbagai langkah, termasuk berkoordinasi dengan Balai Sungai untuk membuka percabangan sungai di bagian timur agar aliran air lebih lancar. Namun, upaya tersebut belum dapat dilakukan karena sejumlah kendala teknis.

Baca Juga:  Euforia HUT ke-298 Gorontalo: Turnamen Basket 3x3 Berakhir Meriah, Ini Daftar Juaranya!

“Kami sudah beberapa kali melakukan kerja bakti di kawasan sungai di sini dan berkoordinasi dengan Balai Sungai untuk membuka percabangan sungai di bagian timur agar air bisa masuk, ternyata itu tidak bisa,” ujarnya.

Dari hasil evaluasi lapangan, DLH menemukan adanya sedimentasi cukup tinggi pada aliran sungai menuju kawasan pasar. Kondisi tersebut membuat aliran air tidak berjalan optimal sehingga meningkatkan potensi genangan saat curah hujan tinggi.

Lukman menegaskan, pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan faktor alam untuk membersihkan sungai dari tumpukan sampah.

“Tentu kami berharap tidak ada banjir. Tetapi tindakan yang paling bijak adalah jangan menambah persoalan dengan membuang sampah ke sungai,” katanya.

Baca Juga:  Warning!, Peternakan Ayam Dilarang di Pusat Kota dan Kawasan Padat Penduduk

Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan, menjadi salah satu wilayah yang hampir setiap tahun terdampak banjir. Ketika intensitas hujan meningkat, sejumlah titik permukiman warga kerap tergenang dan mengganggu aktivitas masyarakat.

DLH mencatat, persoalan banjir di kawasan perkotaan tidak hanya dipengaruhi kapasitas drainase dan sedimentasi sungai, tetapi juga perilaku masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga. Sampah yang menumpuk di saluran air dapat menghambat aliran dan mempercepat terjadinya luapan ke kawasan permukiman.

Selain Sungai Biawu, DLH bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah kecamatan, pemerintah kelurahan, serta masyarakat juga melakukan pembersihan di kawasan Kali Serdadu.

“Alhamdulillah, Camat Kota Timur dan Lurah Moodu mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengatasi persoalan di sana. Kalau dihitung, ada puluhan karung sampah yang kami angkut dari sungai,” kata Lukman.

Ia menegaskan, persoalan sampah merupakan tantangan yang dihadapi hampir seluruh daerah di Indonesia, termasuk Kota Gorontalo. Karena itu, penyelesaiannya membutuhkan keterlibatan semua pihak dan tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah.

Baca Juga:  Nota Pengantar LKPJ 2023 Kota Gorontalo Resmi Diserahkan ke Legislatif

DLH kembali mengimbau masyarakat untuk membangun kebiasaan sederhana, yakni tidak membuang sampah ke sungai, selokan, maupun saluran drainase.

Menurut Lukman, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko banjir di wilayah rawan, termasuk Kelurahan Biawu.

“Langkah terkecil yang bisa dilakukan adalah tidak membuang sampah di tempat-tempat yang menjadi jalur aliran air. Jika dilakukan secara konsisten, dampaknya akan sangat besar bagi lingkungan dan pengurangan risiko banjir,” ujarnya.

Pemerintah Kota Gorontalo berharap kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dapat menjadi solusi jangka panjang dalam mengatasi persoalan sampah dan banjir yang terus berulang setiap tahun.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel