Hibata.id, Gorontalo – Mencari BBM Pertalite di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Gorontalo belakangan tidak cukup hanya membawa kendaraan dan uang.
Pengendara rupanya perlu menyiapkan satu bekal tambahan, yakni kesabaran.
Pantauan Hibata.id di sejumlah SPBU, banyak antrean kendaraan demi mendapatkan BBM bersubsidi itu.
Sejumlah pengendara bahkan memilih datang sejak pagi agar mendapat posisi lebih awal.
Strateginya mirip datang ke hajatan, kalau ingin dapat kursi depan, datang jangan belakangan.
Sayangnya, datang pagi juga bukan jaminan urusan mendapatkan BBM cepat selesai.
Ketika pasokan Pertalite belum tersedia, pengendara harus menunggu mobil tangki tiba dan memasok BBM ke SPBU.
Niat awal hanya mampir mengisi tangki. Kenyataannya, ada yang harus menyediakan waktu tambahan untuk menunggu.
Kondisi tersebut dikeluhkan sejumlah warga dan pengemudi yang ditemui Hibata.id.
Pengemudi angkutan umum, taksi lintas daerah, bentor hingga ojek online mengaku paling merasakan dampaknya.
Musabab, waktu menunggu berarti berkurangnya waktu mencari penumpang.
Bagi mereka, hitungannya sederhana, kendaraan bergerak, ada peluang pendapatan. Kendaraan diam di antrean, dompet juga ikut menunggu.
Buru-buru? Pertamax Jadi Pilihan
Abin, seorang pengemudi taksi lintas provinsi asal Kota Gorontalo mengaku, kadang ia terpaksa membeli Pertamax ketika tidak memiliki cukup waktu untuk mencari atau mengantre Pertalite.
“Kalau memang buru-buru, pasti kami mengisi Pertamax. Ini terpaksa kami lakukan daripada penumpang lari,” kata Abin.
Masalah antrean memang bisa selesai lebih cepat. Namun, menurut Abin, ada konsekuensi lain, biaya operasional bertambah.
“Jelas Pertamax lebih mahal. Bayangkan Rp150 ribu saja hanya terisi 9 liter lebih, kalau Pertalite itu bisa 15 liter,” ujarnya.
Bagi pengemudi angkutan, perbedaan tersebut bukan sekadar angka di struk pembelian BBM.
Setiap rupiah yang keluar untuk bahan bakar masuk dalam perhitungan pendapatan harian.
Pilihannya pun terasa serba menghitung. Mengantre Pertalite bisa menghemat biaya BBM tetapi menghabiskan waktu.
Beralih ke Pertamax bisa menghemat waktu, tetapi pengeluaran bertambah.
Dompet dan jam kerja akhirnya seperti sedang berunding sendiri.
Cerita serupa disampaikan Warlan Tangahu dan kawan-kawan, pengemudi bentor dan ojek daring di Gorontalo. juga merasakan
Ia mengaku, waktu kerjanya bisa tersita ketika harus mengantre sambil menunggu pasokan Pertalite masuk ke SPBU.
“Bayangkan kami pagi sudah mengantre menunggu mobil tangki mengisi SPBU. Jika lama, pasti waktu kami tersita,” katanya.
Menurut Warlan, persoalan menjadi lebih panjang apabila mobil tangki yang membawa BBM belum tiba.
“Belum lagi kalau mobil pengisi SPBU terlambat datang. Sudah pasti waktu kami habis hanya untuk mengisi BBM subsidi. Begitu seterusnya,” ujarnya.
Bagi pengemudi bentor maupun ojek daring, pagi merupakan salah satu waktu untuk mencari penumpang.
Jika sebagian waktunya habis di SPBU, perjalanan mencari pendapatan otomatis ikut tertunda.
Mau hemat uang, kesabaran diuji. Mau hemat waktu, pengeluaran yang bertambah.
Ada yang menarik di tengah antrean tersebut, Hibata.id juga melihat sejumlah kendaraan yang diduga telah mengalami modifikasi melakukan pengisian BBM di SPBU.
Keberadaan kendaraan itu menjadi perhatian di tengah keluhan masyarakat mengenai antrean Pertalite.
Namun, ada garis tebal yang perlu diberikan pada bagian ini.
Hibata.id belum dapat memastikan tujuan modifikasi kendaraan tersebut maupun penggunaan BBM setelah pengisian.
Karena itu, temuan di lapangan tersebut tidak dapat serta-merta disimpulkan sebagai aktivitas penimbunan, penjualan kembali BBM ataupun bentuk pelanggaran lainnya.
Diperlukan konfirmasi dan pemeriksaan dari pengelola SPBU, Pertamina maupun aparat yang berwenang untuk memastikan apakah proses pengisian terhadap kendaraan tersebut telah sesuai dengan ketentuan.
Keluhan pengendara mengenai antrean Pertalite di Gorontalo kini membutuhkan penjelasan dari pihak terkait, terutama mengenai kondisi pasokan dan pola distribusi BBM tersebut.
Warga berharap Pertamina bersama Pemerintah Provinsi Gorontalo mengevaluasi ketersediaan serta distribusi Pertalite dan memperkuat pengawasan di SPBU.
Harapan itu terutama datang dari masyarakat yang menggantungkan penghasilan pada kendaraan, seperti pengemudi angkutan umum, bentor, taksi lintas daerah dan ojek daring.
Bagi mereka, Pertalite bukan hanya urusan jarum indikator bahan bakar.
Ada ongkos operasional, waktu kerja dan pendapatan keluarga yang ikut dihitung setiap kali kendaraan berhenti terlalu lama.
Sebab idealnya, pagi seorang pengemudi dimulai dengan mencari penumpang di jalan raya, bukan mencari posisi paling depan dalam antrean SPBU.
Hibata.id masih berupaya memperoleh konfirmasi dari Pertamina dan Pemerintah Provinsi Gorontalo terkait kondisi pasokan Pertalite, mekanisme distribusi, kuota yang tersedia serta penyebab antrean yang dikeluhkan masyarakat.
Keterangan pihak terkait akan dimuat sebagai bagian dari pembaruan pemberitaan agar masyarakat memperoleh informasi yang utuh dan berimbang.













