Kabar

Faisal Mohie Dorong Sumur Bor untuk Pertanian dan Air Warga Bone Bolango

×

Faisal Mohie Dorong Sumur Bor untuk Pertanian dan Air Warga Bone Bolango

Sebarkan artikel ini
Ketua Panitia Khusus (Pansus) LKPJ, Faisal Mohie/Hibata.id
Ketua Panitia Khusus (Pansus) LKPJ, Faisal Mohie/Hibata.id

Hibata.id, Bone Bolango Ketua Komisi III DPRD Bone Bolango Faisal Mohie mendorong pembangunan sumur bor untuk membantu petani sekaligus memenuhi kebutuhan air baku masyarakat di tengah musim kemarau.

Ia meminta titik sumur bor dipilih secara tepat, terutama di lokasi yang dekat dengan jaringan irigasi dan instalasi pengolahan air (IPA).

Menurut Faisal, langkah itu penting karena kekeringan tidak hanya berdampak pada lahan pertanian, tetapi juga mulai mengganggu pasokan air ke rumah warga.

“Sekarang ada sekitar 24 ribu SR yang sangat kesulitan mendapatkan air,” kata Faisal, Selasa (8/9/2026).

Baca Juga:  Koffee Street CP Bone Bolango Gelap Gulita, Pelaku UMKM: Pemerintah Jangan Tidur

Karena itu, ia berharap pemerintah dan instansi teknis mencari titik pengeboran yang dapat melayani dua kebutuhan sekaligus.

Air dari sumur bor, kata dia, bisa digunakan untuk mengairi lahan pertanian. Sumber air yang sama juga dapat dimanfaatkan sebagai air baku untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Manfaatnya memang untuk ketahanan pangan, tetapi airnya juga bisa menjadi air baku bagi masyarakat,” ujarnya.

Faisal meminta pembangunan sumur bor tidak hanya mengejar jumlah. Penentuan lokasi harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat, kondisi sumber air, jaringan irigasi, serta akses menuju IPA.

Baca Juga:  Kasus Maut di PETI Potabo Mandek, Terduga Pelaku Belum jadi Tersangka

Sebagai Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Bone Bolango, Faisal juga menyoroti dampak kemarau terhadap pertanian. Kekurangan air dapat memengaruhi produksi jagung, padi, hortikultura hingga tanaman perkebunan.

Selain ketersediaan air, ia mendorong petani mulai menggunakan pupuk organik secara bertahap untuk menjaga kondisi lahan.

Menurut dia, peralihan dari pupuk kimia ke organik membutuhkan waktu dan pendampingan agar tidak mengganggu produktivitas petani.

Baca Juga:  PETI Popayato Terus Beroperasi Meski Warga Alami Krisis Air Bersih, APH Ikut Nikmati Hasil?

“Peralihan dari pola konvensional dan pupuk kimia ke organik tidak bisa dilakukan sekaligus. Harus pelan-pelan,” katanya.

Faisal berharap penanganan kekeringan dilakukan secara berkelanjutan melalui pembangunan sumber air, penguatan jaringan irigasi, dan pengelolaan lahan pertanian.

Dengan cara itu, sumber air yang dibangun tidak hanya membantu petani menghadapi kemarau, tetapi juga dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat yang mengalami kesulitan air.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel