Hibata.id, Gorontalo – Daun-daun kangkung yang menguning dan batang yang tumbuh kerdil menjadi pemandangan yang tak diinginkan Yanto di kebunnya.
Di tengah kemarau panjang yang melanda Gorontalo, petani kangkung darat di Kabupaten Bone Bolango itu harus berjuang mempertahankan tanamannya.
Sementara sumber air semakin menyusut dengan biaya produksi yang terus bertambah.
Bagi Yanto, kemarau bukan sekadar cuaca panas yang datang setiap hari.
Musim kering juga berarti ancaman bagi hasil panen dan penghasilan yang selama ini ia andalkan dari kebun kangkung.
Tanaman yang semestinya tumbuh subur justru kesulitan berkembang.
Sebagian tumbuh kerdil, daunnya menguning, bahkan mati sebelum sempat dipanen.
“Musim kemarau membuat tanaman kangkung kami kerdil serta daunnya menguning,” kata Yanto kepada Hibata.id.
Selama ini, Yanto dan petani lainnya mengandalkan air hujan untuk mengairi lahan.
Namun, ketika hujan tak kunjung turun, mereka harus mencari cara agar tanaman tetap mendapat pasokan air.
Persoalannya, air tanah dan aliran sungai yang biasa dimanfaatkan untuk tanaman ikut menyusut.
Lahan pun semakin kering, sementara kebutuhan air kangkung tidak bisa diabaikan jika petani ingin mendapatkan hasil panen yang layak.
Kondisi tersebut membuat upaya mempertahankan tanaman menjadi semakin berat.
Petani bukan hanya menghadapi risiko gagal panen, tetapi juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menyelamatkan tanaman yang masih bisa tumbuh.
Yanto mengaku harus membeli selang dan menyediakan bahan bakar minyak (BBM) untuk mengoperasikan mesin pompa air.
Pengeluaran itu menjadi beban tambahan di tengah hasil panen yang belum tentu menutup biaya produksi.
Di sisi lain, tanaman yang telanjur tumbuh kerdil dan menguning sulit dijual kepada pedagang maupun dipasarkan ke konsumen.
Kualitas kangkung yang menurun membuat petani kehilangan kesempatan memperoleh pendapatan dari hasil kerja mereka.
Sebagian kangkung yang masih layak dikonsumsi akhirnya dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga.
Sementara tanaman yang tidak lagi layak dikonsumsi dialihkan menjadi pakan ternak.
“Kangkung kerdil itu kalau masih bisa dimakan jadi konsumsi pribadi. Kalau tidak, jadi pakan ternak,” ujarnya.
Harga Kangkung Naik, Tak Selalu Untung
Berkurangnya pasokan kangkung dari petani turut memengaruhi harga jual di pasaran.
Menurut Yanto, harga kangkung bisa meningkat hingga berlipat ganda dari harga normal ketika produksi berhasil di tengah kemarau.
Namun, kenaikan harga itu tidak serta-merta membuat petani menikmati keuntungan lebih besar.
Sebab, keberhasilan panen menjadi persoalan tersendiri ketika ketersediaan air semakin terbatas.
Yanto mengatakan, risiko kegagalan justru lebih besar dibandingkan peluang memperoleh panen yang baik.
Tanaman yang kekurangan air dapat tumbuh tidak maksimal, sehingga jumlah dan kualitas hasil panen ikut menurun.
“Kangkung itu tanaman air. Meskipun kangkung darat, tetap butuh air yang banyak. Jika tidak, tanaman akan kerdil bahkan mati,” tuturnya.
Bagi Yanto, bertahan di tengah kemarau berarti terus berupaya menyediakan air, menanggung biaya tambahan, dan menghadapi ketidakpastian hasil panen.
Sementara itu, tanaman yang gagal tumbuh menjadi pengingat bahwa cuaca kering bukan hanya mengubah kondisi kebun. Tetapi juga mengancam penghasilan petani yang menggantungkan hidup pada hasil pertanian.












