Hibata.id – Kabar baik datang untuk masyarakat Bolaang Mongondow Utara (Bolmut). Pemerintah pusat mengalokasikan 500 unit rumah subsidi yang tidak hanya membuka akses hunian layak, tetapi juga diproyeksikan menggerakkan roda ekonomi daerah.
Program dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) ini menyasar masyarakat berpenghasilan rendah yang selama ini kesulitan memiliki rumah sendiri.
Bupati Bolaang Mongondow Utara, Sirajudin Lasena, menegaskan kuota tersebut akan difokuskan bagi warga yang benar-benar membutuhkan.
“Program ini membantu masyarakat memiliki hunian layak sekaligus menjadi bagian dari upaya mengurangi backlog perumahan,” ujarnya.
Namun, dampak program ini tidak berhenti pada penyediaan rumah.
Dorong Ekonomi dari Hulu ke Hilir
Pengamat ekonomi, Dr. Muharto, melihat pembangunan ratusan rumah subsidi akan memicu efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian lokal.
Menurutnya, setiap pembangunan rumah akan menggerakkan banyak sektor sekaligus—mulai dari material bangunan hingga tenaga kerja.
“Pembangunan rumah akan mengaktifkan sektor konstruksi, penggunaan bahan seperti semen, pasir, dan batu bata, hingga membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal,” jelasnya.
Tak hanya itu, sektor turunan seperti UMKM, jasa logistik, hingga distribusi bahan bangunan juga ikut terdorong. Artinya, aktivitas ekonomi tidak hanya terjadi di satu titik, tetapi menyebar ke berbagai lini.
Rektor Universitas Dumoga Kotamobagu itu juga menilai program ini akan menghidupkan sektor properti di daerah.
Dengan meningkatnya akses kepemilikan rumah, transaksi properti diperkirakan ikut naik, terutama di kawasan pinggiran dan wilayah berkembang.
Dampak lanjutannya, kawasan baru berpotensi tumbuh menjadi pusat ekonomi, sekaligus mendorong pemerataan pembangunan.
“Sektor properti juga berkontribusi pada pendapatan daerah melalui pajak dan retribusi, serta berpengaruh pada PDRB dan penyerapan tenaga kerja,” tambahnya.
Efek Berantai
Muharto menjelaskan, program rumah subsidi membawa tiga dampak utama:
- Efek langsung: penyerapan tenaga kerja konstruksi
- Efek tidak langsung: peningkatan aktivitas sektor bahan bangunan dan logistik
- Efek lanjutan: tumbuhnya kawasan ekonomi baru
Namun, ia mengingatkan bahwa dampak besar tersebut hanya akan tercapai jika program dijalankan secara terintegrasi.
Menurutnya, keberhasilan program sangat ditentukan oleh lokasi, keterjangkauan cicilan, serta kualitas kawasan. Selain itu, dukungan infrastruktur menjadi faktor penting.
“Program akan optimal jika terintegrasi dengan transportasi, pusat ekonomi, dan layanan dasar,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor, mulai dari perumahan, pekerjaan umum, hingga pemerintah daerah.
Tapi Perlu Antisipasi Risiko
Di sisi lain, program ini tetap memiliki tantangan, seperti risiko ketidaktepatan sasaran, ketidakseimbangan kawasan, hingga tekanan fiskal daerah.
Namun, risiko tersebut bisa ditekan jika program dirancang secara matang dan menyasar kebutuhan riil masyarakat.
Dengan pendekatan yang tepat, program rumah subsidi diyakini tidak hanya membantu masyarakat memiliki rumah, tetapi juga menjadi motor pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Bolaang Mongondow Utara.
Alih-alih sekadar membangun rumah, program ini membuka peluang besar untuk membangun kawasan dan masa depan ekonomi daerah.













