Hibata.id, Bolmut – Perjalanan dari dunia aktivis menuju kursi birokrasi bukan hal yang mudah.
Namun, langkah itu kini ditempuh dua figur yang tak asing di kalangan masyarakat Bolaang Mongondow Utara (Bolmut).
Supriadi Goma dan Arter Datunsolang resmi dipercaya mengemban jabatan strategis di lingkungan pemerintah daerah.
Supriadi memimpin Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, sementara Arter menakhodai Dinas Pemuda dan Olahraga.
Penunjukan ini langsung menyedot perhatian. Publik menaruh harapan besar, sekaligus penasaran. Sejauh mana semangat aktivis bisa diterjemahkan dalam kebijakan nyata?
Supriadi Goma bukan nama baru dalam gerakan sosial. Sejak masa mahasiswa di PMII Gorontalo, ia aktif menyuarakan isu pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
Pengalaman itu kini menjadi bekal penting saat ia berada di posisi pengambil kebijakan.
Ia menegaskan, langkah awal yang akan ditempuh adalah membangun sinergi.
“Insya Allah kami akan berupaya memberikan yang terbaik untuk daerah,” ujar Supriadi Goma, Selasa (5/5/2026).
Baginya, pendidikan bukan sekadar urusan sekolah, tetapi juga soal masa depan daerah.
Karena itu, ia ingin menghadirkan inovasi yang benar-benar dirasakan oleh guru, siswa, hingga masyarakat luas.
Di sisi lain, Arter Datunsolang datang dengan energi yang tak kalah kuat.
Latar belakang panjang di dunia kepemudaan, termasuk sebagai Ketua MD Kahmi Bolmut, membentuk visinya tentang pentingnya peran generasi muda dalam pembangunan.
Arter ingin membuka lebih banyak ruang bagi anak muda untuk berkembang. Ia menilai, potensi pemuda Bolmut selama ini besar, namun belum sepenuhnya terwadahi secara optimal.
Program pembinaan yang lebih terarah, peningkatan prestasi olahraga, hingga ruang kreativitas menjadi fokus yang akan ia dorong ke depan.
Respons masyarakat pun cenderung positif. Warga melihat penunjukan dua mantan aktivis ini sebagai angin segar di tengah kebutuhan akan kebijakan yang lebih dekat dengan realitas di lapangan.
Salah seorang warga, Ersyad Mamonto, menyampaikan optimismenya.
“Kami berharap mereka benar-benar membawa perubahan, bukan hanya wacana,” ujarnya.
Kini, harapan itu bertumpu pada langkah nyata. Publik menunggu, apakah semangat yang dulu berkobar di jalanan aktivisme mampu menjelma menjadi kebijakan yang berdampak luas bagi pendidikan, kebudayaan, serta masa depan pemuda Bolmut.













