Hibata.id – Ada yang berbeda dalam upacara peringatan Hari Kartini ke-147 dan Hari Otonomi Daerah ke-30 di Kotamobagu, Rabu, 29 April 2026. Di tengah suasana khidmat yang dipimpin Wali Kota Weny Gaib, sorotan justru tertuju pada dua sosok perempuan yang tampil anggun dengan balutan kain penuh makna budaya.
Ketua TP PKK Kota Kotamobagu, Rindah Gaib Mokoginta, bersama Wakil Ketua TP PKK, Resty A. Mangkat, mengenakan busana kain lukis karya Ketua TP PKK Provinsi Sulawesi Utara, Anik Yulius Selvanus.
Pilihan busana itu bukan sekadar estetika. Rindah menegaskan, kain yang dikenakan memiliki pesan yang lebih dalam—tentang identitas, budaya, dan dukungan terhadap ekonomi lokal.
“Pada momentum Hari Kartini dan Hari Otonomi Daerah ini, kami mengenakan kain lukis sebagai simbol pelestarian budaya lokal yang sarat makna. Motifnya menggambarkan kekayaan alam dan kearifan lokal Sulawesi Utara,” ujarnya.
Ia menambahkan, kain lukis tersebut bukan hanya busana seremonial, melainkan wujud kecintaan terhadap warisan budaya sekaligus dukungan nyata bagi pelaku UMKM. Dengan sentuhan desain modern, kain tradisional ini dinilai tetap relevan untuk berbagai acara formal.
Kehadiran kain lukis dalam upacara itu menjadi penegas bahwa semangat Kartini tak hanya hidup dalam pidato, tetapi juga dalam tindakan nyata—melestarikan budaya sekaligus memberdayakan ekonomi lokal.
Bagi masyarakat yang tertarik, kain lukis tersebut dapat ditemukan di Galeri Dekranasda Provinsi Sulawesi Utara di kawasan Bumi Beringin, Manado. Di sana, berbagai produk unggulan daerah dipamerkan, mulai dari kain lukis, batik, hingga aneka aksesori dan produk UMKM dari berbagai kabupaten/kota, termasuk dari Kotamobagu.
Di tengah arus modernisasi, kain lukis yang dikenakan Rindah dan Resty seolah menjadi pengingat: identitas budaya tetap bisa tampil elegan—bahkan menjadi pusat perhatian












