- Ketua DPRD Pohuwato, Beni Nento, mengimbau aliansi BARA API menunda rencana aksi May Day 2026 demi menjaga stabilitas dan ketertiban daerah.
- Pemerintah daerah bersama Forkopimda membuka ruang dialog sebagai alternatif penyampaian aspirasi, sekaligus mengingatkan agar ketegangan seperti aksi 2023 tidak terulang.
- Tujuh tuntutan aliansi, terutama terkait investasi dan tali asih, disebut telah ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan perusahaan dan pemerintah provinsi untuk mencari solusi.
Hibata.id, Pohuwato – Ketua DPRD Pohuwato, Beni Nento, menyampaikan imbauan tegas namun bernada persuasif terkait rencana aksi aliansi BARA API pada momentum Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 hari ini.
Ia berharap rencana tersebut dapat ditunda demi menjaga situasi daerah tetap kondusif.
Pernyataan itu disampaikan usai rapat LKPJ Kepala Daerah Tahun 2025, Rabu (30/04/2026).
“Terkait dengan aksi, jadi atau tidak, insyaallah kita tidak menginginkan ini,” ujar Beni.
Saat ditanya kemungkinan kehadirannya jika aksi tetap berlangsung, ia menjawab singkat, “Besok ini libur.”
Meski singkat, pernyataan itu menegaskan sikapnya. Beni kemudian mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menahan diri dan mengutamakan kepentingan bersama.
“Kita semua, para tokoh dan seluruh elemen, berharap aksi ini ditunda. Jangan ada lagi aksi di hari May Day ini. Kita jaga daerah kita bersama,” tegasnya.
Ia mengingatkan kembali peristiwa aksi 21 September 2023 yang sempat memicu ketegangan hingga berujung pembakaran kantor bupati.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting agar situasi serupa tidak terulang.
“Terbayang aksi 21 September 2023. Tentu kami tidak ingin itu terjadi lagi,” katanya.
Beni menjelaskan, pemerintah daerah bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) telah membuka ruang dialog bagi masyarakat yang ingin menyampaikan aspirasi.
Ia menilai pendekatan ini lebih efektif dan konstruktif dibandingkan aksi turun ke jalan.
Ia juga menyoroti makna May Day sebagai momentum refleksi bagi pekerja, bukan semata ruang demonstrasi.
“May Day ini hari buruh internasional, bukan hari demo. Kritik silakan, tapi untuk besok dan seterusnya, kami harap bisa menahan diri dulu,” ujarnya.
Terkait tujuh tuntutan yang diusung aliansi, Beni memastikan pemerintah tidak tinggal diam.
Ia menyebut sebagian besar tuntutan, terutama yang berkaitan dengan investasi, telah diteruskan kepada pihak perusahaan hingga ke tingkat direksi.
“Sudah kami teruskan ke pihak perusahaan, bahkan ke direkturnya. Ini jadi atensi kami bersama,” jelasnya.
Selain itu, koordinasi juga terus dilakukan bersama pemerintah provinsi, khususnya dalam penyelesaian persoalan tali asih yang masih menyisakan ratusan kasus.
“Ini sudah ada tim tujuh bentukan gubernur. Kami DPRD, bupati, dan forkopimda terus berkoordinasi mencari solusi.
Karena kalau ini selesai, masyarakat tidak akan lagi melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan,” pungkasnya.













