Kabar

BMKG: Hujan Lebat Masih Berpotensi Terjadi di Tengah Kondisi Kering

×

BMKG: Hujan Lebat Masih Berpotensi Terjadi di Tengah Kondisi Kering

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Hujan - BMKG mencatat 1.474 wilayah mengalami hari tanpa hujan ekstrem di Indonesia/Hibata.id
Ilustrasi Hujan - BMKG mencatat 1.474 wilayah mengalami hari tanpa hujan ekstrem di Indonesia/Hibata.id

Hibata.id, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 1.474 wilayah di Indonesia mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori ekstrem panjang hingga Dasarian II September 2026.

Kondisi kering tersebut membuat risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih perlu diwaspadai.

Sejalan dengan kondisi itu, BMKG mendeteksi 674 titik panas pada 30 September 2026. Sebanyak 159 titik berada di Sumatera, 193 titik di Kalimantan, serta 322 titik di Papua dan Maluku.

BMKG menyebut titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi menunjukkan adanya anomali suhu permukaan yang berpotensi berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah yang mengalami curah hujan rendah dan periode tanpa hujan panjang.

Namun, kondisi cuaca Indonesia tidak seragam. Hujan lebat hingga sangat lebat masih terjadi secara lokal pada 28–30 September 2026.

Baca Juga:  BSG Dinilai Tidak Aman, Aktivis Desak Pemerintah Tarik Kas Daerah

Curah hujan tertinggi tercatat di Papua Tengah 102 milimeter per hari, Papua 97 milimeter, Jawa Barat 96 milimeter, Sumatera Utara dan Banten masing-masing 70 milimeter.

Di Jabodetabek, Kabupaten Bogor mencatat 96,1 milimeter per hari, sedangkan Kota Tangerang Selatan mencapai 70 milimeter.

BMKG menjelaskan hujan lokal tersebut dipengaruhi dinamika atmosfer, antara lain aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial, suhu muka laut yang relatif hangat, serta melemahnya Monsun Australia yang membuat suplai udara lembap ke wilayah Jawa meningkat.

Prakiraan awal Oktober

Memasuki awal Oktober, kondisi kering masih berpotensi bertahan di sejumlah wilayah. BMKG memprakirakan 79,65 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah, yakni 0–50 milimeter per dasarian pada Dasarian I Oktober 2026.

Sebanyak 19,99 persen wilayah diprakirakan mengalami hujan kategori menengah dan 0,36 persen kategori tinggi.

Meski demikian, hujan tetap berpotensi terjadi secara lokal. Aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial diprakirakan memengaruhi sebagian Sumatera, sementara Gelombang Kelvin berpotensi aktif di sebagian Sumatera, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, dan Maluku Utara.

Baca Juga:  AMM Soroti Krisis Air Bersih, Desak Penindakan Tegas Terhadap PETI di Popayato

Monsun Australia juga diprakirakan menguat di Indonesia bagian selatan sehingga kondisi relatif kering masih berpeluang bertahan. Namun, wilayah yang mendapat dukungan gelombang atmosfer, suhu muka laut hangat, serta konvergensi dan belokan angin tetap berpotensi mengalami hujan lebat, petir, dan angin kencang.

Potensi hujan 2–8 Oktober

Pada 2–4 Oktober, hujan sedang berpotensi meningkat di sejumlah wilayah, termasuk Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Papua Tengah, dan Papua.

Peringatan hujan lebat hingga sangat lebat berlaku untuk Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, dan Papua Pegunungan. Potensi angin kencang juga terdapat di Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Papua Selatan.

Baca Juga:  Laporan Dugaan ASN Bodong di Bone Bolango Dihentikan, Nilawati Angkat Bicara

Pada 5–8 Oktober, hujan sedang berpotensi meningkat di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Papua Tengah, dan Papua.

Papua Pegunungan berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat, sedangkan potensi angin kencang terdapat di Maluku Utara, Sulawesi Tengah, dan Nusa Tenggara Barat.

BMKG mengimbau masyarakat menghemat air, meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan karhutla, serta tidak melakukan pembakaran sampah atau membuka lahan dengan cara membakar.

Masyarakat juga diminta mewaspadai hujan lebat yang dapat memicu genangan, longsor, petir, dan angin kencang. Informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini dapat dipantau melalui kanal resmi BMKG, aplikasi InfoBMKG, dan media sosial @infobmkg.

**Jadikan Hibata.id sebagai preferensi sumber. Klik 👉 GOOGLE dan ikuti WhatsApp Channel