Hibata.id, Gorontalo – Mesin boleh siap digas, tetapi keselamatan tidak boleh ikut terburu-buru.
Panitia drag race di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, akhirnya memilih menunda pelaksanaan kegiatan drag race.
Hal itu setelah insiden drag race di Kotamobagu, Sulawesi Utara, yang menyebabkan 8 korban meninggal dunia.
Keputusan itu bukan berarti drag race Pohuwato batal. Panitia justru menggunakan masa penundaan untuk kembali memeriksa sirkuit.
Diantaranya mengevaluasi prosedur keselamatan, serta melengkapi sejumlah persyaratan tambahan sebelum kegiatan dilanjutkan.
“Cuma kami panitia berinisiatif untuk menunda karena empati atas kejadian di Kotamobagu,” kata panitia drag race Pohuwato, Rochmad Paudi, saat diwawancarai Hibata.id melalui sambungan telepon, Selasa (18/8/2026).
Rochmad mengatakan, persiapan drag race Pohuwato sebenarnya sudah berlangsung jauh sebelum insiden di Kotamobagu.
Panitia telah mengurus rekomendasi dan melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah aspek teknis sirkuit.
Dengan kata lain, menurut panitia, urusan balap sudah disiapkan.
Namun setelah terjadi kecelakaan di daerah tetangga, panitia memilih tidak sekadar bertanya apakah mobil siap melaju, tetapi juga apakah seluruh sistem keselamatan sudah benar-benar siap.
“Kami sudah merencanakan balap ini jauh dari bulan Juli, sebelum kejadian Kotamobagu. Kami juga sudah mengajukan rekomendasi,” ujar Rochmad.
Pada 8 Agustus 2026, panitia bersama Polres Pohuwato dan Ikatan Motor Indonesia (IMI) Gorontalo telah memeriksa sirkuit yang akan digunakan.
Tim memeriksa kondisi aspal, lebar lintasan, permukaan sirkuit, hingga kemungkinan adanya bagian lintasan yang bergelombang. Aspek pengamanan juga menjadi bagian dari evaluasi.
“Semua sudah dicek dari aspek keamanan. Ada beberapa poin yang disarankan, termasuk seperti yang sudah dilakukan pada kegiatan-kegiatan sebelumnya,” katanya.
Namun, setelah insiden drag race di Kotamobagu, panitia kembali membuka daftar pemeriksaan.
Bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk memastikan tidak ada bagian keselamatan yang terlewat.
Rochmad mengatakan panitia mengevaluasi kembali seluruh kelengkapan sebelum mengambil keputusan untuk menunda kegiatan.
“Kami tidak tahu-tahu akan, ternyata di Kotamobagu terjadi kejadian, delapan orang meninggal. Di situlah kami mengevaluasi lagi, apa yang belum dan apa yang sudah. Kami cek satu per satu kelengkapan untuk keamanan,” ujarnya.
Menurut Rochmad, pihak kepolisian tetap memberikan dukungan terhadap rencana kegiatan otomotif tersebut.
Namun dukungan itu berjalan bersama dengan tuntutan agar seluruh prosedur keselamatan dipenuhi.
Bahkan, SOP untuk kegiatan kali ini disebut lebih ketat dibandingkan dua event sebelumnya yang pernah diselenggarakan panitia.
“Dari dua event sebelumnya yang saya buat, yang sekarang ini SOP-nya lebih ketat. Ada unit tambahan, ada race assessment dari Polda dan pendampingan pengamanan,” katanya.
Jadi, kalau sebelumnya panitia punya daftar pekerjaan yang harus dicentang, kali ini daftar tersebut bertambah.
Rochmad menyebut jumlah persiapan yang harus dipenuhi meningkat dari sekitar 10 poin menjadi sekitar 20 poin.
“Kalau sebelumnya misalnya hanya 10, sekarang bisa sampai 20. Kami harus mengejar tambahan yang 10 itu karena ada SOP baru,” ujarnya.
Bagi panitia, tambahan prosedur tersebut bukan sekadar menambah pekerjaan administrasi. Setiap poin berkaitan dengan upaya memastikan kegiatan berlangsung aman bagi pembalap, petugas, dan penonton.
Rochmad menegaskan penundaan tidak berarti drag race Pohuwato dibatalkan.
Panitia akan memanfaatkan waktu tersebut untuk melengkapi kekurangan, kemudian kembali berkonsultasi dengan Polda dan Polres Pohuwato.
“Tidak menunda lama. Sambil menunggu penundaan ini kami evaluasi lagi apa yang kurang. Kalau sudah cocok, kami konsultasi lagi dengan Polda dan Kapolres, nanti mereka yang evaluasi,” katanya.
Polda juga dijadwalkan kembali meninjau sirkuit Pohuwato untuk melihat kondisi lintasan secara langsung.
“Besok juga dari Polda mau turun ke sini untuk melihat lagi sirkuit. Itu bukti dukungan mereka kepada kami. Cuma kami masih berempati, jadi panitia memilih menunda,” ujar Rochmad.
Untuk tahapan perizinan, Rochmad mengatakan rekomendasi dari Polres Pohuwato telah tersedia. Namun, karena kegiatan ditunda, surat izin dari Polda belum diterbitkan.
“Kalau dari Polres sudah merekomendasikan. Tapi karena kami pending, surat izin belum keluar. Kami melapor untuk pending karena masih ada kejadian di Kotamobagu,” katanya.
Panitia akan kembali menghadap Polda setelah seluruh persiapan dinyatakan lengkap. Mereka akan memastikan kondisi sirkuit telah sesuai dengan hasil race assessment sebelum kegiatan dilanjutkan.
“Kalau sudah siap, kami akan ke Polda lagi. Kami akan tanyakan apakah sudah sesuai race assessment atau bagaimana. Kami konsultasi lagi dengan Polda dan Kapolres. Kalau mereka nyatakan bisa, baru kami lanjutkan,” ujar Rochmad.
Menurut dia, seluruh persiapan kegiatan sebenarnya sudah cukup matang. Namun, setelah insiden Kotamobagu, panitia memilih memberi ruang untuk evaluasi.
Sebab dalam urusan balap, menunda start jauh lebih baik daripada menyesal setelah bendera finis berkibar.
“Kami punya persiapan sudah matang semua. Cuma dari kami ditunda dulu. Sambil menunggu, kami evaluasi. Kalau sudah sesuai, kemungkinan minggu depan kami menghadap lagi ke Polda,” pungkasnya.













