Hibata.id, Gorontalo – Perjalanan pulang 30 jamaah umrah asal Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, berubah menjadi persoalan setelah mereka tiba di Jakarta.
Tiket penerbangan lanjutan menuju Gorontalo belum tersedia, sementara perjalanan dari Tanah Suci telah mereka selesaikan.
Kondisi tersebut mendapat perhatian Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Provinsi Gorontalo.
Kemenhaj bersama Kantor Kemenhaj Kabupaten Pohuwato kini meminta keterangan dari para jamaah untuk memastikan rangkaian persoalan yang menyebabkan kepulangan mereka terkendala.
Kepala Kanwil Kemenhaj Provinsi Gorontalo Mansur Basir melalui Kepala Bidang Bina Haji dan Umrah, Syafwan Yusuf Ekie, mengatakan pihaknya langsung merespons pengaduan yang disampaikan jamaah.
“Kami ingin persoalan ini bisa teratasi secepat mungkin,” kata Syafwan.
Kantor Kemenhaj Kabupaten Pohuwato telah menerima pengaduan dari jamaah.
Petugas kemudian meminta keterangan para jamaah dan menuangkannya dalam Berita Acara Permintaan Keterangan (BAPK).
Langkah berikutnya, kata Syafwan, Kemenhaj akan memanggil pihak travel yang memberangkatkan jamaah untuk meminta penjelasan mengenai persoalan tersebut.
“Dari aduan yang sudah diajukan, selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan pemanggilan terhadap pihak travel yang memberangkatkan jemaah-jemaah tersebut,” ujarnya.
Terlantar di Jakarta
Persoalan itu bermula setelah rombongan yang berangkat dari Gorontalo pada 3 September 2026 menyelesaikan perjalanan umrah dan tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, pada Senin (21/9/2026) dini hari.
Mereka seharusnya melanjutkan penerbangan dari Jakarta menuju Gorontalo untuk kembali ke daerah asal.
Namun hingga Senin siang, tiket penerbangan Jakarta-Gorontalo yang menjadi bagian dari rute kepulangan belum juga diterima jamaah.
Situasi tersebut membuat perjalanan pulang yang semestinya menjadi tahap akhir ibadah justru menghadirkan persoalan baru setelah mereka tiba di Indonesia.
Koordinator jamaah umrah, Irfan Towalu, mengatakan dirinya telah menangani keberangkatan jamaah umrah sejak 2015.
Selama ini, ia bekerja sama dengan AARA Travel Umroh yang berkantor pusat di Surabaya, Jawa Timur.
Irfan menjelaskan, pada sejumlah pemberangkatan sebelumnya, perjalanan jamaah menggunakan rute yang lebih sederhana, yakni Gorontalo-Surabaya-Jeddah untuk perjalanan pergi dan pulang menggunakan pesawat yang sama melalui sistem add on.
Pola perjalanan tersebut berbeda dengan perjalanan yang kali ini mengalami kendala pada penerbangan lanjutan Jakarta-Gorontalo.
Kemenhaj Kawal Penanganan
Syafwan mengatakan, penanganan persoalan jamaah umrah menjadi perhatian Kemenhaj agar setiap laporan masyarakat memperoleh tindak lanjut sesuai ketentuan.
“Penanganan masalah jemaah umrah ini harus bisa kita selesaikan dalam waktu yang secepatnya,” ujarnya.
Ia juga meminta seluruh pihak yang terlibat, baik jamaah maupun travel, kooperatif selama proses penanganan berlangsung.
“Kepada seluruh pihak, baik jemaah maupun pihak travel yang memberangkatkan jemaah, kami berharap senantiasa kooperatif dalam menyelesaikan persoalan ini,” katanya.
Kemenhaj Gorontalo memastikan proses penanganan terus dikawal hingga diperoleh informasi yang lengkap mengenai penyebab kendala kepulangan dan kejelasan penyelesaiannya.
Dengan demikian, persoalan 30 jamaah umrah asal Pohuwato tersebut masih berada dalam proses penanganan dan menunggu penjelasan dari pihak travel yang akan dipanggil oleh Kemenhaj.












