Hibata.id, Gorontalo – Pernyataan Kementerian Hak Asasi Manusia (KemenHAM) bahwa bullying merupakan pelanggaran hak asasi manusia memunculkan pertanyaan baru.
Jika perundungan memang masuk kategori pelanggaran HAM, mengapa praktik serupa masih berulang di lingkungan sekolah dan terus memakan korban?
Kepala Kantor Wilayah KemenHAM Sulawesi Tengah dan Gorontalo, Mangatas Nadeak, mengatakan praktik bullying tidak bisa lagi dianggap sebagai kenakalan remaja biasa.
Menurutnya, tindakan tersebut telah melanggar hak setiap anak untuk memperoleh rasa aman selama mengikuti pendidikan.
“Bullying itu merupakan pelanggaran HAM,” kata Mangatas usai peresmian kantor baru KemenHAM di Gorontalo, Selasa.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan sikap pemerintah. Namun, tantangan sesungguhnya bukan lagi pada penyampaian definisi, melainkan bagaimana memastikan kasus-kasus perundungan benar-benar berkurang di sekolah.
Selama ini, berbagai sosialisasi mengenai hak asasi manusia telah dilakukan di sejumlah sekolah bekerja sama dengan pemerintah daerah.
Sayangnya, edukasi saja sering kali belum cukup jika tidak dibarengi pengawasan, mekanisme pelaporan yang mudah, perlindungan korban, serta pendampingan terhadap pelaku agar tidak mengulangi perbuatannya.
KemenHAM menyatakan akan melanjutkan program penyuluhan kepada pelajar dan memperluasnya melalui program Desa Sadar HAM dengan melibatkan masyarakat sebagai duta HAM di tingkat desa.
Langkah tersebut dinilai penting. Namun, masyarakat juga menantikan indikator yang lebih terukur, seperti penurunan jumlah kasus perundungan, meningkatnya keberanian korban melapor, hingga terbentuknya sekolah yang benar-benar aman bagi peserta didik.
Mangatas menegaskan, KemenHAM tidak hanya menerima pengaduan masyarakat, tetapi juga berupaya membangun budaya sadar HAM melalui berbagai kegiatan edukasi.
Peresmian kantor baru KemenHAM di Gorontalo diharapkan tidak sekadar menjadi penambahan fasilitas pelayanan, tetapi juga menjadi titik awal penguatan perlindungan hak asasi manusia yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya anak-anak di lingkungan pendidikan.












