Hibata.id, Gorontalo – Di antara deretan penjelasan mengenai penindakan pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Kabupaten Pohuwato, ada satu kalimat dari Kapolda Gorontalo Irjen Pol Widodo yang justru lebih cepat ‘menambang’ perhatian publik dibanding angka-angka penanganan perkara.
Bukan soal 19 lokasi yang masih ditangani. Bukan pula soal proses hukum yang terus berjalan. Yang ramai justru kalimat ini.
“Dan itu masih bertambah terus, nggak berhenti nangkep. Cuma kalau capek ya mohon maklum, karena memang mungkin TKP-nya tahu sendiri,” kata Kapolda usai peringatan Hari Bhayangkara ke-80 di Gorontalo, Rabu (1/7/2026).
Kalimat itu langsung mengundang beragam respons. Sebagian menganggapnya sebagai ungkapan yang apa adanya.
Sebagian lagi menilai pernyataan tersebut menunjukkan betapa beratnya medan operasi yang harus ditempuh aparat.
Sebelumnya, Kapolda menjelaskan jumlah lokasi yang menjadi fokus penanganan kini tersisa 19 titik karena dua lokasi telah memasuki tahap lanjutan proses hukum.
“Saya udah bilang kemarin, cek di Pohuwato. Sekarang tinggal 19 karena yang dua lokasi PETI sudah tahap dua,” ujarnya.
Tidak berhenti di situ, Kapolda bahkan mengaku sudah dua kali turun langsung ke lokasi dan merasakan sendiri tantangan yang dihadapi personel.
“Saya pun udah pernah ke sana dua kali, ampun-ampun,” katanya.
Kalimat “ampun-ampun” pun seolah menjadi penjelasan singkat bahwa menuju lokasi PETI bukan perjalanan seperti mencari warung kopi di pinggir jalan.
Medan yang sulit menjadi tantangan nyata dalam setiap operasi.
Meski disampaikan dengan nada santai, pesan yang tertangkap cukup jelas. Penindakan PETI bukan pekerjaan yang selesai dalam satu atau dua kali operasi.
Aparat harus menghadapi akses yang sulit, lokasi yang berjauhan, hingga aktivitas tambang yang terus bermunculan.
Di sisi lain, masyarakat tentu berharap kerja keras tersebut berbanding lurus dengan hasil yang terlihat di lapangan.
Sebab, aktivitas pertambangan tanpa izin tidak hanya berkaitan dengan penegakan hukum, tetapi juga berdampak pada lingkungan, keselamatan, dan kehidupan warga sekitar.
Kalimat “kalau capek ya mohon maklum” mungkin menjadi kutipan yang paling banyak diingat dari wawancara tersebut.
Namun, yang lebih dinantikan publik adalah bagaimana strategi penanganan PETI mampu menekan munculnya kembali aktivitas tambang ilegal secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, masyarakat bisa memahami bahwa medan operasi memang berat.
Namun, harapan yang sama tetap bergema: semoga yang lelah bukan semangat memberantas PETI, melainkan hanya sepatu dinas yang berkali-kali menyusuri perbukitan Pohuwato.












