Lingkungan

Cara Baru Menjaga Hutan, PLN Nusantara Power Ajak Siswa Belajar Julang Sulawesi

×

Cara Baru Menjaga Hutan, PLN Nusantara Power Ajak Siswa Belajar Julang Sulawesi

Sebarkan artikel ini
PLN Nusantara Power bersama UMGo menyusun kurikulum konservasi Burung Julang Sulawesi di sekolah Taluditi, Pohuwato untuk memperkuat pendidikan lingkungan sejak dini/Hibata.id
PLN Nusantara Power bersama UMGo menyusun kurikulum konservasi Burung Julang Sulawesi di sekolah Taluditi, Pohuwato untuk memperkuat pendidikan lingkungan sejak dini/Hibata.id

Hibata.id, Gorontalo – Biasanya yang membawa buku ke sekolah adalah siswa. Namun kali ini, yang “ikut masuk kelas” justru Burung Julang Sulawesi.

Tentu bukan benar-benar duduk di bangku sekolah, melainkan menjadi materi pembelajaran baru yang akan dikenalkan kepada pelajar di Kecamatan Taluditi, Kabupaten Pohuwato.

Scroll untuk baca berita

Langkah itu dilakukan PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan (UP) Gorontalo bersama Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGo) melalui penyusunan kurikulum muatan lokal dan modul pembelajaran konservasi Burung Julang Sulawesi (Rhyticeros cassidix).

Program tersebut menjadi bagian dari upaya menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini. Harapannya, siswa tidak hanya mengenal Julang Sulawesi sebagai satwa endemik, tetapi juga memahami pentingnya menjaga hutan yang menjadi rumah alami satwa tersebut.

Penyusunan kurikulum diawali melalui Focus Group Discussion (FGD) bersama guru-guru sekolah dasar di Kecamatan Taluditi. Dalam forum itu, peserta menyusun struktur kurikulum, bahan ajar, hingga modul pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi daerah.

Baca Juga:  Sawit Bukan Tanaman Hutan

Ke depan, materi konservasi itu juga direncanakan diterapkan di tingkat sekolah menengah pertama agar pendidikan lingkungan dapat berjalan secara berkesinambungan.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah Gorontalo, Indri Afriani Yasin, mengatakan pendidikan menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan konservasi.

“Melestarikan Julang Sulawesi tidak cukup hanya melalui perlindungan habitat. Anak-anak juga perlu dikenalkan sejak dini tentang pentingnya menjaga satwa endemik dan lingkungan tempat mereka hidup,” kata Indri.

Menurut dia, kurikulum muatan lokal tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi yang peduli terhadap lingkungan sekaligus bangga terhadap kekayaan hayati daerahnya.

“Kami ingin membangun generasi yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekaligus bangga terhadap kekayaan hayati daerahnya,” ujarnya.

Baca Juga:  Tambang Batu Gamping Ancam Hidup Warga Matamaling Banggai Kepulauan

Manager PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Gorontalo, Adi Nugroho, menilai pendidikan merupakan investasi jangka panjang bagi keberhasilan konservasi.

“Program konservasi yang berkelanjutan harus melibatkan generasi muda. Karena itu kami bersama UMGo tidak hanya fokus pada penelitian dan pelestarian habitat, tetapi juga membangun kesadaran lingkungan melalui dunia pendidikan,” katanya.

Adi berharap materi mengenai Julang Sulawesi nantinya menjadi bagian dari pembelajaran rutin di sekolah.

“Dengan begitu, nilai-nilai konservasi dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Sementara itu, Assistant Manager Business Support PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Gorontalo, Reynold Gobel, mengatakan penyusunan kurikulum tersebut merupakan bagian dari roadmap Program Konservasi Julang Sulawesi hingga 2029.

“Kami percaya perubahan besar dimulai dari pendidikan. Ketika anak-anak memahami pentingnya menjaga hutan dan satwa endemik, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang peduli terhadap lingkungan,” jelas Reynold.

Baca Juga:  Tambang Ilegal Balayo Pohuwato Makin Terang-Terangan, Hukum Seolah Tumpul

Ia menambahkan, kolaborasi bersama UMGo diharapkan menghadirkan pendidikan konservasi yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Kami ingin program ini memberi dampak nyata bagi masa depan Julang Sulawesi sekaligus lingkungan di Pohuwato,” katanya.

Selain menyusun kurikulum, program konservasi tersebut juga meliputi penelitian sosial-ekologi, pembangunan Laboratorium Lapangan Konservasi, pelibatan masyarakat melalui SMART PATROL, serta pengembangan eduekowisata berbasis konservasi.

Seluruh kegiatan itu menjadi bagian dari komitmen PLN Nusantara Power melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dalam mendukung pelestarian keanekaragaman hayati.

Jika selama ini bel sekolah identik dengan pelajaran matematika, bahasa, atau IPA, kini di Taluditi suara “ting… tong…” juga menjadi pengingat bahwa menjaga alam adalah pelajaran yang tak kalah penting untuk masa depan.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel