Lingkungan

Tak Sekadar Konservasi, Ini Langkah Besar PLN Nusantara Power untuk Julang Sulawesi

×

Tak Sekadar Konservasi, Ini Langkah Besar PLN Nusantara Power untuk Julang Sulawesi

Sebarkan artikel ini
Narasumber dari Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGo) menyampaikan materi pada Pelatihan SMART PATROL kepada masyarakat di Kecamatan Taluditi, Kabupaten Pohuwato. Pelatihan yang menjadi bagian dari Program Konservasi Burung Julang Sulawesi hasil kolaborasi PLN Nusantara Power UP Gorontalo dan UMGo ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menjaga habitat satwa endemik Sulawesi serta memperkuat upaya konservasi berbasis masyarakat. Foto: Dok. PLN Nusantara Power UP Gorontalo/Hibata.id
Narasumber dari Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGo) menyampaikan materi pada Pelatihan SMART PATROL kepada masyarakat di Kecamatan Taluditi, Kabupaten Pohuwato. Pelatihan yang menjadi bagian dari Program Konservasi Burung Julang Sulawesi hasil kolaborasi PLN Nusantara Power UP Gorontalo dan UMGo ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menjaga habitat satwa endemik Sulawesi serta memperkuat upaya konservasi berbasis masyarakat. Foto: Dok. PLN Nusantara Power UP Gorontalo/Hibata.id

Hibata.id, Pohuwato – Program Konservasi Burung Julang Sulawesi (Rhyticeros cassidix) yang diinisiasi PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan (UP) Gorontalo bersama Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGo) memasuki babak baru.

Setelah setahun membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga satwa endemik Sulawesi itu, kini program diarahkan untuk memperkuat ekosistem konservasi yang berkelanjutan melalui riset, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, hingga kolaborasi lintas sektor.

Scroll untuk baca berita

Langkah tersebut menjadi fondasi menuju target jangka panjang yang telah disusun dalam roadmap konservasi hingga 2029.

Hingga April 2026, sejumlah capaian berhasil diraih. Tim konservasi telah menyelesaikan survei sosial-ekologi di lima desa habitat Julang Sulawesi di Kabupaten Pohuwato.

Diantaranya menyusun kurikulum muatan lokal konservasi untuk sekolah, merancang Laboratorium Lapangan Konservasi di Desa Mekarti Jaya, serta menyiapkan model eduekowisata berbasis pelestarian alam.

Data hasil survei menunjukkan masyarakat di lima desa memiliki tingkat kepedulian dan dukungan yang tinggi terhadap upaya pelestarian Julang Sulawesi.

Namun demikian, penelitian juga menemukan beberapa tantangan yang masih mengancam kelestarian habitat satwa tersebut.

Ancaman itu meliputi pembukaan lahan, aktivitas pertambangan ilegal, hingga penurunan kualitas kawasan hutan.

Baca Juga:  Alat Berat Kembali Masuk Desa Busak, PETI di Buol Picu Keresahan Warga

Temuan tersebut menjadi dasar penyusunan strategi konservasi yang lebih terukur sehingga setiap program yang dijalankan mampu menjawab kondisi riil di lapangan.

Selain memperkuat riset, program ini juga mulai menyasar dunia pendidikan. UMGo bersama PLN Nusantara Power tengah menyusun kurikulum muatan lokal tentang Julang Sulawesi yang akan diterapkan di sekolah-sekolah Kecamatan Taluditi.

Melalui kurikulum tersebut, generasi muda diharapkan semakin mengenal satwa endemik daerahnya sekaligus memahami pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem sejak usia dini.

Di sisi lain, Laboratorium Lapangan Konservasi yang sedang dipersiapkan di Desa Mekarti Jaya nantinya akan menjadi pusat penelitian, edukasi, pelatihan masyarakat, hingga pengembangan eduekowisata berbasis konservasi.

Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Gorontalo, Dr. Salahudin Pakaya, mengatakan sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri menjadi kunci agar program konservasi tidak berhenti pada penelitian semata, tetapi mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kami ingin konservasi ini menjadi gerakan bersama. Perguruan tinggi menghadirkan riset dan inovasi, sementara PLN Nusantara Power memberikan dukungan agar hasil penelitian dapat diimplementasikan di lapangan. Dengan pendekatan ini, konservasi tidak berhenti pada kajian akademik, tetapi benar-benar menjadi solusi bagi pelestarian lingkungan dan pembangunan masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga:  Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Ranah Juang Lestari Membuat Berbagai Kegiatan

Sementara itu, Manager PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Gorontalo, Adi Nugroho, menegaskan fase yang sedang berjalan merupakan pondasi untuk membangun konservasi yang berkelanjutan.

Menurut dia, PLN Nusantara Power bersama UMGo telah menyusun peta jalan hingga 2029 dengan tahapan yang saling terintegrasi, mulai dari penelitian, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, hingga pengembangan eduekowisata.

“Kami tidak ingin program ini hanya menjadi kegiatan tahunan. Karena itu, bersama UMGo kami menyusun roadmap hingga tahun 2029. Setiap tahapan dirancang saling berkesinambungan, mulai dari penelitian, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, hingga pengembangan eduekowisata. Harapannya, masyarakat nantinya menjadi pelaku utama dalam menjaga habitat Julang Sulawesi sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari kawasan yang tetap lestari,” kata Adi.

Assistant Manager Business Support PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Gorontalo, Reynold Gobel, menilai keberhasilan konservasi tidak hanya dilihat dari tetap terjaganya populasi satwa, tetapi juga dari meningkatnya kesadaran dan keterlibatan masyarakat.

Menurutnya, seluruh kegiatan selalu melibatkan pemerintah daerah, pemerintah desa, sekolah, akademisi, hingga masyarakat agar tercipta ekosistem konservasi yang mampu bertahan dalam jangka panjang.

Baca Juga:  Jalan Rusak hingga Sungai Keruh, Aktivitas PETI Bulangita Jadi Keluhan

“Konservasi yang berhasil adalah konservasi yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Karena itu, seluruh kegiatan yang kami lakukan selalu melibatkan pemerintah daerah, pemerintah desa, sekolah, akademisi, dan masyarakat. Kami ingin membangun sebuah ekosistem, di mana pelestarian lingkungan berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas masyarakat, pendidikan generasi muda, dan peluang ekonomi berbasis konservasi,” jelas Reynold.

Program Konservasi Julang Sulawesi menjadi bagian dari komitmen PLN Nusantara Power dalam mendukung pelestarian keanekaragaman hayati melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Tidak hanya berfokus menjaga keberadaan salah satu burung endemik Sulawesi, program ini juga diarahkan untuk membangun model konservasi berbasis masyarakat yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.

Dengan menggabungkan pendekatan ilmiah, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan pelestarian lingkungan, program tersebut diharapkan mampu menjaga habitat Julang Sulawesi sekaligus menghadirkan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan hutan.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel