Peristiwa

Polisi Telusuri Rantai Aktor PETI DAM Usai 5 Orang Tewas Tertimbun Longsor

×

Polisi Telusuri Rantai Aktor PETI DAM Usai 5 Orang Tewas Tertimbun Longsor

Sebarkan artikel ini
Seluruh jenazah korban longsor di PETI DAM Pohuwato dievakuasi menggunakan karung dari lokasi kejadian. Foto: ist/Hibata.id
Seluruh jenazah korban longsor di PETI DAM Pohuwato dievakuasi menggunakan karung dari lokasi kejadian. Foto: ist/Hibata.id

Hibata.id, Gorontalo Polisi mulai memperluas penyelidikan atas longsor di kawasan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) DAM, Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo.

Tragedi maut Rabu malam (12/8/2026) itu menewaskan lima orang dan melukai satu penambang.

Namun, bagi polisi, perkara ini tidak berhenti pada longsor dan korban jiwa.

Penyidik kini mulai menelusuri bagaimana aktivitas tambang berlangsung di lokasi tersebut dan siapa saja yang mengetahui maupun terlibat di dalamnya.

Kapolres Pohuwato AKBP Busroni mengatakan sekitar 15 saksi telah diperiksa. Jumlah itu masih bisa bertambah jika penyidik menemukan informasi baru.

“Kami sudah minta keterangan saksi-saksi, sekitar 15 saksi yang sudah kita periksa. Nanti bisa bertambah lagi. Sementara itu dulu, nanti bisa kita kembangkan dari hasil keterangan saksi-saksi,” kata Busroni di Mapolres Pohuwato, Minggu (16/8/2026).

Polisi juga telah membentuk tim khusus, melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), memasang garis polisi sepanjang sekitar 150 meter, serta kembali mendatangi lokasi bersama Dinas Kehutanan dan Ditreskrimsus Polda Gorontalo.

Baca Juga:  Speedboat Hilang Kontak Akhirnya Ditemukan, Tapi Kondisi Penumpang...

Pemeriksaan dengan Dinas Kehutanan dilakukan untuk memastikan status kawasan berdasarkan titik koordinat lokasi.

Saat petugas kembali ke lokasi, aktivitas tambang sudah tidak terlihat. Peralatan yang biasanya digunakan untuk mencari material tambang juga telah menghilang dari lokasi.

“Ketika kami lakukan TPTKP di sana sudah tidak ada orang sama sekali, sudah sepi. Semua alat-alat yang biasanya digunakan untuk mencari batu-batu sudah tidak ada,” ujar Busroni.

Polisi memastikan enam orang dari satu rombongan tertimbun longsor. Lima di antaranya meninggal dunia, sedangkan satu orang selamat dalam kondisi luka.

Kelima korban meninggal dunia telah teridentifikasi, yakni Pandra Djalilu (27), Miman Ibura (23), Sandi Bilondatu (23), Piki Larama (26), dan Andi Otoluwa.

Empat korban berasal dari Desa Bendungan, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo. Satu korban lainnya merupakan warga Desa Bongonol, Kecamatan Paguyaman.

Baca Juga:  Gempa M 5,0 Guncang Kabupaten Bandung, Terasa Hingga Garut

Proses evakuasi berlangsung secara manual oleh warga dan sesama penambang. Para korban kemudian dibawa ke RSUD Bumi Panua Pohuwato sekitar pukul 03.30 WITA.

Keluarga korban menolak otopsi. Penolakan tersebut dituangkan dalam surat resmi, sementara rumah sakit tetap melakukan visum luar.

Polisi Telusuri Lebih Jauh

Di tengah penyelidikan, muncul informasi mengenai banyaknya orang yang berada di kawasan tambang sebelum longsor. Informasi yang diterima Hibata.id menyebut jumlahnya lebih dari 20 hingga sekitar 30 orang.

Namun, informasi tersebut belum dapat menjadi dasar untuk menetapkan adanya korban lain. Polisi masih melakukan pendataan.

Kabid Humas Polda Gorontalo Kombes Pol Marupa Sagala sebelumnya menyebut enam penambang tertimbun, dengan lima orang meninggal dunia.

Di sisi lain, muncul pula informasi mengenai dugaan kepemilikan sejumlah titik PETI di kawasan DAM.

Baca Juga:  Soal Kecelakaan Atap Truk Dalmas Satlantas, Begini kata Kapolresta Gorontalo Kota

Anggota DPRD Pohuwato Yusuf Lawani membantah lokasi longsor merupakan miliknya. Ia mengatakan lokasi tersebut merupakan area lain dan bukan titik pertambangan miliknya.

Sampai sekarang, polisi belum menetapkan siapa pihak yang bertanggung jawab atas aktivitas pertambangan di titik longsor.

Karena itu, pemeriksaan terhadap 15 saksi menjadi penting. Dari keterangan mereka, polisi diharapkan tidak hanya menjawab siapa yang berada di lokasi ketika longsor terjadi.

Tetapi juga pertanyaan yang lebih besar, yaitu bagaimana aktivitas PETI bisa berlangsung di kawasan tersebut dan siapa yang menjalankannya.

Busroni menegaskan penyelidikan masih berjalan.

“Kami akan kejar,” katanya.

Kini, pekerjaan polisi bukan sekadar mencari barang bukti dari balik timbunan longsor. Penyidik juga dituntut mengurai rantai aktivitas tambang yang berjalan sebelum bencana terjadi.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel