Hibata.id, Gorontalo – Pemilu 2029 memang masih beberapa tahun lagi. Namun di Gorontalo, suhu politik mulai terasa seperti kopi hitam yang baru diseduh.
Panasnya pelan-pelan naik, aromanya sudah tercium ke mana-mana.
Kalau Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum meniup peluit, warga justru lebih dulu menggelar quick count versi warung kopi.
Dari meja warkop sampai kursi plastik pinggir jalan, nama-nama calon anggota DPR RI mulai diperdebatkan.
Bedanya, tidak ada saksi partai, yang ada hanya saksi mata karena ikut mendengar obrolan.
Hingga awal Juli 2026, sedikitnya enam figur paling sering muncul dalam percakapan politik masyarakat.
Ada politisi senior, petahana, mantan kepala daerah, hingga wajah baru yang mulai mencuri perhatian.
Meski belum seluruhnya resmi menyatakan maju, dinamika politik sudah mulai membentuk peta persaingan menuju Senayan.
Di dunia politik, ada istilah nama lama, rasa baru. Kalimat itu tampaknya cocok menggambarkan Fadel Muhammad.
Mantan Gubernur Gorontalo yang kini menjabat anggota DPD RI itu kembali masuk dalam radar pembicaraan politik.
Hingga kini belum ada kepastian kendaraan politik yang akan digunakan apabila memilih bertarung di DPR RI.
Namun namanya terus beredar dalam berbagai diskusi politik.
Pengalaman panjang di tingkat nasional membuat Fadel masih dianggap sebagai salah satu figur yang layak diperhitungkan.
Kalau politik diibaratkan balapan, Partai NasDem tampaknya sudah mulai memanaskan mesin.
Nama Rachmat Gobel hampir dipastikan kembali menjadi andalan partai berlambang restorasi tersebut.
Sinyal itu menguat setelah Wakil Ketua Umum NasDem, Saan Mustopa, secara terbuka menyatakan partainya akan kembali mengusung Gobel pada Pemilu 2029.
Sebagai petahana, Gobel datang dengan bekal pengalaman di DPR RI, jaringan politik, serta kekuatan mesin partai yang masih cukup solid di Gorontalo.
Dalam setiap musim politik selalu ada satu nama yang membuat publik bertanya, Ini siapa?”
Tahun ini, nama itu mengarah kepada Revan Saputra Bangsawan atau RSB.
Pengusaha muda tersebut menjadi perbincangan setelah Ketua DPW PAN Gorontalo Anas Jusuf mengakui adanya komunikasi politik.
Spekulasi semakin berkembang ketika foto RSB tampil berdampingan dengan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dalam baliho pelantikan pengurus PAN Gorontalo.
Meski demikian, PAN belum mengumumkan keputusan resmi mengenai arah komunikasi tersebut.
Kalau Golkar adalah kapal besar, banyak pengamat politik menilai Rusli Habibie masih menjadi salah satu nahkoda yang paling berpengalaman.
Mantan Gubernur Gorontalo dua periode itu tetap masuk dalam bursa calon kuat DPR RI.
Modal politiknya dinilai masih besar, didukung jaringan kader Golkar hingga tingkat akar rumput serta kekuatan partai yang menjadi pemegang kursi terbanyak di DPRD Provinsi Gorontalo.
Kehadiran Wakil Gubernur Idah Syahidah yang merupakan Istri Rusli Habibie juga dinilai menjadi salah satu faktor yang memperkuat komunikasi politik Golkar di masyarakat.
Di saat banyak orang masih sibuk menebak siapa calon wali Kota Gorontalo, Erwin Ismail justru memilih melirik Senayan.
Ketua DPD Partai Demokrat Gorontalo itu secara terbuka menyatakan siap bertarung di DPR RI.
“Dorang bilang itu arena keras, mo coba no,” ujarnya dilansir beritaa1.id
Kalimat singkat tersebut langsung menjadi bahan obrolan baru. Sebab, jika benar maju, Erwin akan berhadapan dengan sejumlah politisi yang lebih dahulu malang melintang di tingkat nasional.
Dalam politik, tidak semua yang tenang berarti hilang. Nama Elnino M. Husein Mohi masih masuk dalam daftar figur yang diperhitungkan.
Anggota DPR RI dari Partai Gerindra itu dinilai tetap memiliki basis pendukung yang loyal serta jaringan relawan yang aktif di berbagai daerah.
Meski sempat dikabarkan fokus pada pemulihan kesehatan, peluang Elnino kembali maju masih terbuka apabila memperoleh mandat dari partainya.
Perlu dicatat, hingga kini belum ada penetapan resmi calon anggota DPR RI untuk Pemilu 2029.
Seluruh nama yang beredar masih berada dalam dinamika komunikasi politik masing-masing partai.
Kalau biasanya musim hujan ditandai munculnya awan hitam, maka musim politik Gorontalo ditandai ramainya diskusi di warung kopi.
Bedanya, kopi bisa habis dalam satu cangkir, sedangkan perdebatan soal siapa yang paling layak ke Senayan sering kali baru selesai setelah gelas terakhir diangkat—lalu dimulai lagi keesokan harinya.












