Hibata.id – Seorang anggota Polisi Wanita (Polwan) di Gorontalo, Brigadir M, diduga melakukan intimidasi terhadap mahasiswa melalui unggahan di media sosial Facebook, usai aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Gorontalo, Jumat (30/8/2025).
Kasus ini mencuat setelah beredar video pendek berdurasi 13 detik dari aksi demonstrasi yang memuat pernyataan kritis salah seorang mahasiswi terhadap aparat kepolisian.
Potongan video itu kemudian diunggah kembali oleh akun Facebook pribadi bernama Meylan Putri dengan narasi bernada merendahkan, sehingga menuai kecaman publik.
“Unggahan seorang aparat dengan status bernada melecehkan jelas merupakan bentuk intimidasi psikologis terhadap mahasiswa yang sedang menyampaikan aspirasi,” tulis seorang warganet di kolom komentar.
Aktivis kampus ikut mengecam
Kecaman juga datang dari kalangan aktivis mahasiswa. Mereka menilai aparat semestinya menjaga profesionalisme, bukan memperkeruh suasana dengan unggahan di media sosial.
“Kalau aparat ikut-ikutan membully mahasiswa, lalu siapa lagi yang bisa melindungi rakyat?” kata salah seorang mahasiswa peserta aksi.
Jenderal Lapangan aksi, Farsya Paputungan, menegaskan bahwa pernyataan mahasiswi dalam video tersebut tidak lahir tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk kekecewaan terhadap kondisi Polri saat ini.
“Ucapan itu lahir dari suara massa aksi di Gorontalo, yang merekam kekecewaan mendalam atas berbagai persoalan serius di tubuh Polri, mulai dari kasus tewasnya demonstran di Jakarta, praktik pungutan liar di jalan, hingga tindakan represif dalam setiap demonstrasi,” ujar Farsya.
Ia menambahkan, pernyataan keras itu pada akhirnya menjadi simbol perlawanan atas ketidakpuasan publik terhadap institusi kepolisian.
Menurut Farsya, kondisi ini menunjukkan bahwa reformasi Polri merupakan kebutuhan mendesak. Aparat seharusnya tampil sebagai pengayom, bukan pihak yang menakutkan.
“Kalimat lugas dan kasar itu ‘jangan masuk polisi, mo jadi bodok’ menjadi seruan agar kita jujur melihat luka besar di tubuh kepolisian. Sikap Polwan yang mengunggah status bernada merendahkan justru memperlihatkan mental aparat yang tertutup terhadap kritik,” tegasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, upaya konfirmasi kepada Brigadir M melalui akun Facebook pribadinya belum mendapat tanggapan.
Publik kini mendesak institusi kepolisian untuk segera mengambil langkah tegas. Jika dibiarkan, tindakan seperti ini dikhawatirkan semakin memperburuk citra Polri yang selama ini kerap dituding represif terhadap gerakan mahasiswa di Gorontalo maupun di tingkat nasional.












