Scroll untuk baca berita
Kabar

Waspada Penipuan Jelang Pencairan THR, Ini Dua Modus Sering Terjadi

×

Waspada Penipuan Jelang Pencairan THR, Ini Dua Modus Sering Terjadi

Sebarkan artikel ini
enipuan digital meningkat menjelang pencairan THR Lebaran 2026/Hibata.id
enipuan digital meningkat menjelang pencairan THR Lebaran 2026/Hibata.id

Hibata.id – Penipuan digital diperkirakan meningkat menjelang pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) Lebaran 2026. Peningkatan aktivitas transaksi dan penggunaan layanan digital saat Ramadan sering dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk menipu masyarakat.

Perusahaan identitas digital VIDA mencatat lonjakan kasus penipuan digital pada periode menjelang dan saat pencairan THR sepanjang 2025.

Founder & Group CEO VIDA Niki Luhur mengatakan pelaku kejahatan siber kerap memanfaatkan momentum meningkatnya aktivitas masyarakat menjelang Lebaran.

“Penipuan selalu beradaptasi. Ketika sistem keamanan diperkuat, pelaku akan mencari celah baru dan kembali dengan metode yang lebih kompleks,” kata Niki dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu.

Baca Juga:  FORMALINTANG Pohuwato Akan Blokade Kantor MDKA Group di Jakarta

Menurut dia, rendahnya kewaspadaan pengguna serta meningkatnya transaksi digital membuat masyarakat lebih rentan menjadi target penipuan.

Dua modus penipuan digital yang perlu diwaspadai

Niki mengingatkan setidaknya ada dua modus penipuan digital yang sering muncul menjelang musim pencairan THR.

1. Phishing dan smishing

Modus pertama adalah phishing atau smishing, yaitu penipuan yang dilakukan melalui pesan singkat atau tautan palsu.

Pelaku biasanya mengirim pesan yang terlihat seperti berasal dari lembaga resmi, perusahaan logistik, atau promo Ramadhan.

Korban kemudian diminta mengklik tautan dan memasukkan data pribadi seperti username, password, hingga kode OTP.

Dalam beberapa kasus, pelaku juga menggunakan teknik fake BTS yang memungkinkan pengiriman SMS massal yang tampak seperti berasal dari institusi resmi.

Baca Juga:  Pelaksana Harian Sekda Gorontalo Tutup Bimtek PPID

Karena terlihat meyakinkan, banyak pengguna tidak menyadari bahwa pesan tersebut merupakan penipuan.

2. Malware melalui file APK

Modus kedua adalah penyebaran malware melalui file aplikasi berbahaya berbentuk APK.

Pelaku biasanya mengirim dokumen palsu yang terlihat penting, misalnya:

  • status pengiriman paket

  • undangan pernikahan digital

  • dokumen transaksi

  • pemberitahuan layanan tertentu

Jika korban mengunduh file tersebut, aplikasi berbahaya bisa langsung terpasang di ponsel.

Aplikasi ini dapat memberikan akses kepada pelaku untuk memantau perangkat dari jarak jauh dan mencuri berbagai informasi sensitif.

Password saja tidak cukup melindungi akun

Baca Juga:  Dari Gorontalo, Hplus Mengalirkan Peluang Baru Lewat Air Mineral pH 9+

Niki menilai kedua modus tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu mengambil akses ke akun digital korban.

Karena itu, penggunaan password saja dinilai tidak lagi cukup untuk melindungi akun di era digital saat ini.

Ia menyarankan masyarakat untuk memperkuat keamanan perangkat serta melindungi identitas digital yang tersimpan di dalamnya.

Perangkat seperti ponsel, tablet, dan laptop kini sering menjadi pintu masuk ke berbagai layanan penting, termasuk layanan keuangan.

Jika perangkat tidak terlindungi dengan baik, pelaku dapat dengan mudah mengambil alih akses akun pengguna.

 

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel