Kabar

Ulat di Menu MBG Bonepantai: Korban Dipaksa Minta Maaf, SPPG Tutup Mulut

×

Ulat di Menu MBG Bonepantai: Korban Dipaksa Minta Maaf, SPPG Tutup Mulut

Sebarkan artikel ini
Korban Ulat di Menu MBG Bonepantai saat minta maaf/Hibata.id
Korban Ulat di Menu MBG Bonepantai saat minta maaf/Hibata.id

Hibata.id, Bone Bolango – Kasus temuan belatung (Ulat) dalam menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bonepantai bukan hanya soal kualitas makanan.

Tetapi juga memunculkan pertanyaan baru, mengapa warga yang nyaris menjadi korban justru tampil meminta maaf?

Alih-alih mendapat perlindungan sebagai penerima manfaat, seorang ibu rumah tangga yang anaknya membawa pulang lauk ayam berisi belatung malah tampil dalam video klarifikasi.

Ia membacakan pernyataan didampingi pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tihu dan aparat desa.

Publik pun dibuat bertanya-tanya. Jika makanan itu benar bermasalah, mengapa yang meminta maaf justru warga?

Praktisi hukum Gorontalo, Muhamad Saleh Gasin, menilai situasi ini tidak lazim dan mengarah pada dugaan tekanan.

“Kalau melihat situasinya, ini seperti terbalik. Yang seharusnya menjelaskan dan meminta maaf itu penyelenggara program, bukan warga,” kata Saleh.

Baca Juga:  JATAM Desak Tangkap Cukong yang Gunakan Alat Berat di Tambang Ilegal Sungai Dopalak

Ia bahkan mengaku, menerima informasi bahwa proses klarifikasi tersebut tidak sepenuhnya lahir dari inisiatif warga.

Tulisan klarifikasi yang dibacakan disebut bukan murni dari pihak keluarga.

“Kalau benar ada keterlibatan aparat, ini tentu menjadi catatan serius. Warga harusnya dilindungi, bukan diarahkan,” katanya.

Situasi ini membuat publik bukan hanya mempertanyakan kualitas makanan, tetapi juga cara penanganan masalahnya.

Sebab, dalam logika sederhana, menemukan belatung di makanan bukanlah pengalaman yang biasanya diakhiri dengan permintaan maaf dari pihak yang hampir memakannya.

Dari Tulang Hingga Belatung

Sorotan terhadap MBG di Bonepantai sebenarnya bukan kali pertama.

Sebelumnya, siswa sempat mengeluhkan menu yang lebih banyak tulang dibandingkan daging.

Baca Juga:  Hamdi Alamri: Perusahaan Harus Tahu Diri, Jangan Hanya Sedot Keuntungan Lalu Diam Saat Bencana

Kini, keluhan itu “naik level”.

Seorang siswa membawa pulang lauk ayam yang awalnya terlihat normal—tanpa bau, tanpa tanda mencurigakan.

Namun, setelah disimpan hingga malam hari, lauk tersebut berubah menjadi “hidup”, dengan munculnya belatung putih yang bergerak di dalam daging.

Perubahan ini tentu menimbulkan pertanyaan: apakah masalah ada pada kualitas bahan, proses pengolahan, atau distribusi?

Atau, jangan-jangan semua berjalan “normal”, hanya saja standar normalnya yang perlu ditinjau ulang?

Penjelasan BGN

Menanggapi hal itu, Badan Gizi Nasional (BGN) wilayah Bone Bolango menyatakan makanan dalam kondisi baik saat disalurkan ke sekolah.

Koordinator Regional BGN Gorontalo, Zulkifli Taluhumala, juga ikut menjelaskan bahwa makanan MBG memiliki batas waktu konsumsi maksimal empat jam setelah dibagikan.

“Jika dikonsumsi lebih dari empat jam, kualitas makanan tidak dapat dijamin. Makanan MBG juga tidak dianjurkan untuk dibawa pulang,” ujarnya.

Baca Juga:  Wakil Bupati Pohuwato Bantah Rencana Relokasi Warga Hulawa oleh Perusahaan Tambang

BGN menyarankan siswa mengonsumsi makanan langsung di lokasi. Jika tidak dikonsumsi, makanan sebaiknya dikembalikan.

Terkait video klarifikasi dari penerima manfaat, Badan Gizi Nasional (BGN) wilayah Gorontalo menilai tidak terdapat unsur paksaan dalam penyampaian pernyataan tersebut.

“Jika demikian, saya meyakini tidak ada tekanan dalam proses klarifikasi itu,” ujarnya.

Kondisi ini mendorong perlunya evaluasi pada sistem distribusi dan edukasi konsumsi makanan agar program berjalan optimal.

Pemerintah daerah diharapkan dapat memastikan kualitas dan keamanan makanan tetap terjaga. Sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelaksanaan program MBG di daerah.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel