Hibata.id, Bolmut – Kalau sampah sudah “naik pangkat” jadi gunung kecil di pinggir jalan, tandanya warga tak bisa lagi cuma geleng-geleng kepala. Itulah yang terjadi di Kecamatan Bintauna, Senin (20/4/2026).
Pemerintah kecamatan, desa, hingga warga kompak turun tangan. Dari yang pakai seragam sampai yang pakai sandal jepit, semua ikut aksi bersih-bersih. Sampah yang tadinya betah nongkrong di pinggir jalan, drainase, sampai lahan kosong akhirnya “diusir” ramai-ramai.
Camat Bintauna, Sarwo Eddy Posangi, bilang kondisi ini sudah bikin geleng kepala, bukan cuma soal pemandangan, tapi juga soal kesehatan.
“Kalau dibiarkan, bukan cuma baunya yang menyengat, tapi juga bisa bawa penyakit. Ini langkah darurat dulu,” ujarnya.
Karena belum ada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang memadai, penanganan dilakukan seadanya sambil menunggu solusi jangka panjang. Ibaratnya, ini seperti “pemadam kebakaran” untuk urusan sampah.
Posangi juga menegaskan, pihaknya bakal dorong koordinasi dengan pemerintah kabupaten supaya fasilitas seperti TPS dan TPA bisa segera tersedia.
“Kami tidak mau selamanya pakai cara darurat. Harus ada solusi permanen,” katanya.
Di sisi lain, warga juga punya cerita sendiri. Salah satu warga mengaku, membuang sampah sembarangan bukan karena hobi, tapi karena “keadaan memaksa”.
“Mau buang ke mana lagi? Tidak ada tempatnya, apalagi sampah basah. Bingung juga kami,” katanya singkat.
Meski begitu, aksi gotong royong ini jadi bukti kalau warga Bintauna masih kompak. Harapannya, ke depan bukan cuma sampah yang hilang, tapi juga kebiasaan buang sembarangan.
Karena kalau lingkungan bersih, yang senang bukan cuma mata—tapi juga hidung.













