Parlemen

Kasus MBG Ulat Bonepantai: Korban Alami Trauma Usai Tekanan Klarifikasi

×

Kasus MBG Ulat Bonepantai: Korban Alami Trauma Usai Tekanan Klarifikasi

Sebarkan artikel ini
Anggota DPRD Provinsi Gorontalo saat menemui Korban yang Alami Trauma Usai Tekanan Klarifikasi MBG Ulat/Hibata.id
Anggota DPRD Provinsi Gorontalo Femmy Udoki saat menemui Korban yang Alami Trauma Usai Tekanan Klarifikasi MBG Ulat/Hibata.id

Hibata.id, Bone Bolango Kasus temuan belatung dalam menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bonepantai, Gorontalo, berkembang dari isu kualitas makanan kini menjadi persoalan sosial.

Dugaan tekanan terhadap penerima manfaat kini mencuat dan memicu perhatian banyak orang.

Seorang ibu rumah tangga yang anaknya membawa pulang lauk ayam terkontaminasi belatung justru tampil dalam video klarifikasi.

Dalam rekaman tersebut, ia membacakan pernyataan didampingi pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tihu serta aparat desa.

Kondisi itu memunculkan pertanyaan publik. Warga menilai, pihak yang seharusnya memberikan penjelasan adalah penyelenggara program (SPPG), bukan penerima manfaat.

Informasi terbaru menyebutkan, keluarga tersebut mengalami tekanan psikologis pascakejadian.

Baca Juga:  Komisi III Deprov Gorontalo Monitoring Hasil Rehab MTSN 02 Limboto

Sang ibu dan anak dikabarkan memilih mengurung diri di rumah karena takut mendapat respons negatif dari lingkungan sekitar.

“Sudah seminggu Jamila tidak mau keluar rumah, anaknya pun tidak sekolah. Alasannya masih takut ada yang marah lagi,” tulis Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Femmy Udoki, melalui akun media sosialnya.

Femmy mengaku, telah mengunjungi keluarga tersebut untuk memberikan dukungan moral.

Ia menyebut kehadirannya bertujuan mengembalikan semangat korban yang sebelumnya diliputi ketakutan.

“Saya hadir untuk memberi semangat, bukan menghakimi. Beberapa hari terakhir suasana mereka dipenuhi rasa takut,” ujar Sekretaris DPW PAN Gorontalo itu.

Sementara itu, Koordinator Wilayah BGN Provinsi Gorontalo, Zulkifli Taluhumala, masih membantah adanya tekanan terhadap keluarga penerima manfaat.

Baca Juga:  Deprov Gorontalo Rekomendasikan Empat Poin Ranperda RTRW

Ia menegaskan pihaknya akan melakukan penelusuran jika ditemukan indikasi pelanggaran.

“Jika terbukti ada tindakan tidak tepat dari pihak SPPG, kami akan menindak tegas sesuai aturan,” katanya.

Tanggapan Praktisi Hukum

Praktisi hukum Gorontalo, Muhamad Saleh Gasin, menilai situasi tersebut tidak lazim dan berpotensi mengarah pada dugaan tekanan terhadap warga.

“Dalam logika penanganan kasus, pihak penyelenggara seharusnya memberikan klarifikasi. Jika warga justru diminta menyampaikan pernyataan, ini perlu ditelusuri lebih lanjut,” ujar Saleh.

Ia juga mengungkapkan adanya informasi bahwa pernyataan klarifikasi yang dibacakan tidak sepenuhnya berasal dari inisiatif keluarga.

“Jika ada keterlibatan pihak lain dalam penyusunan pernyataan, itu menjadi catatan penting. Prinsip perlindungan terhadap warga harus diutamakan,” katanya.

Baca Juga:  Reses Femmy Udoki di Popodu: Warga Keluhkan BPJS Terblokir dan Tiang Listrik

Kasus ini turut memperpanjang daftar keluhan terhadap pelaksanaan program MBG di wilayah, Bone Bolango, Gorontalo.

Sebelumnya, sejumlah siswa disalah satu sekolah mengeluhkan kualitas menu yang dinilai tidak layak atau hanya didominasi tulang.

Kejadian terbaru, seorang siswa membawa pulang lauk ayam yang awalnya tampak normal. Namun setelah beberapa jam disimpan, ditemukan belatung pada daging tersebut.

Peristiwa itu memunculkan pertanyaan terkait standar kualitas bahan pangan, proses pengolahan, hingga distribusi dalam program MBG.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel