Hibata.id, Jakarta – Di tengah kelancaran operasional ibadah haji 2026, kabar duka datang pada hari keempat.
Satu jemaah dilaporkan wafat di Madinah. Sementara puluhan lainnya harus mendapatkan perawatan medis.
Informasi tersebut disampaikan Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Ichsan Marsha, dalam konferensi pers resmi yang disiarkan secara daring, Jumat (24/4/2026).
“Innalillahi wa innailaihi rojiun. Kami juga menyampaikan berita duka atas wafatnya satu jemaah haji kloter SOC-3 asal Solo atas nama Rodiyah berusia 68 akibat serangan jantung,” ujar Ichsan Marsha dalam Konferensi Pers Penyelenggaraan Ibadah Haji 1447 H/2026 M.
Kabar ini menjadi pengingat bahwa perjalanan ibadah haji tidak hanya menuntut kesiapan spiritual, tetapi juga kondisi fisik yang prima—terutama bagi jemaah lanjut usia.
Pemerintah memastikan seluruh hak almarhumah tetap dipenuhi, termasuk pelaksanaan badal haji oleh petugas.
“PPIH menjamin badal haji bagi jemaah yang wafat dan kita berdoa semoga almarhumah husnul khatimah,” lanjutnya.
Di balik kabar duka tersebut, perhatian terhadap kondisi kesehatan jemaah terus diperketat. Data terbaru menunjukkan puluhan jemaah mulai mengalami penurunan kondisi fisik.
Sebanyak 93 jemaah menjalani rawat jalan, dua orang dirujuk ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), dan satu jemaah harus mendapatkan penanganan lanjutan di rumah sakit di Arab Saudi.
“Kami menaruh perhatian serius pada aspek kesehatan. Setiap laporan menjadi dasar penguatan layanan agar jemaah dapat beribadah dengan aman dan nyaman,” tegas Ichsan.
Salah satu faktor yang ikut memengaruhi kondisi jemaah adalah cuaca di Madinah. Suhu siang hari mencapai 34 derajat Celsius dengan kelembapan rendah, hanya sekitar 25 persen. Bagi jemaah, terutama lansia, kondisi ini bukan hal ringan.
Karena itu, pemerintah terus mengingatkan pentingnya menjaga stamina selama berada di Tanah Suci.
“Kami mengimbau jemaah menjaga stamina, memperbanyak minum, dan mengikuti arahan petugas. Cuaca cukup panas, sehingga penting menjaga kondisi tubuh,” tutur Ichsan.
Sementara itu, proses pemberangkatan jemaah dari Indonesia masih berjalan sesuai rencana. Hingga hari keempat, sebanyak 40 kelompok terbang (kloter) telah diberangkatkan dengan total 15.349 jemaah.
Dari jumlah tersebut, 9.884 jemaah yang tergabung dalam 25 kloter telah tiba dengan selamat di Madinah.
Menariknya, pemerintah juga mulai melakukan penyesuaian sejak dari tanah air. Salah satunya dengan mengurangi kegiatan seremonial saat pelepasan jemaah di embarkasi.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Waktu istirahat yang cukup dinilai lebih penting agar jemaah tetap bugar sebelum menjalani perjalanan panjang dan rangkaian ibadah yang padat.
Dengan kondisi cuaca yang menantang dan aktivitas yang intens, perhatian terhadap kesehatan menjadi kunci utama.
Pemerintah pun terus memperkuat layanan, agar seluruh jemaah dapat menjalankan ibadah dengan aman hingga puncaknya nanti.












