Hibata.id, Semarang – Fakta baru kembali muncul dari kasus yang menyeret bekas anggota Polrestabes Semarang, Robig Zaenudin. Di tengah masa hukuman, ia justru kedapatan positif narkoba.
Temuan ini bermula dari pemeriksaan yang dilakukan Direktorat Reserse Narkoba Polda Jawa Tengah di Lapas Semarang pada Januari 2026.
Kabid Humas Polda Jawa Tengah Artanto mengungkap hasilnya cukup mengejutkan.
“Dilakukan tes urine, hasilnya positif narkoba. Tetapi belum diketahui jenis apa,” tutur Artanto di Semarang, dikutip Sabtu (25/4/2026).
Hasil tersebut langsung memicu langkah cepat. Petugas memindahkan Robig ke Nusakambangan, wilayah Cilacap, yang dikenal dengan pengamanan ketat.
Pemindahan ini bukan tanpa alasan. Aparat menduga adanya keterlibatan dalam peredaran narkoba dari dalam penjara. Pihak lapas pun mengambil langkah tersebut untuk mencegah gangguan keamanan.
Sebelumnya, Robig sudah lebih dulu diberhentikan tidak dengan hormat (PTDH) dari kepolisian melalui sidang etik pada 9 Desember 2024.
Ia juga harus menjalani hukuman 15 tahun penjara dalam kasus penembakan yang menewaskan siswa SMKN 4 Semarang.
Bukan Tawuran, Ada Cerita Lain
Kasus ini sebenarnya sudah lama menyita perhatian publik. Namun, fakta yang muncul belakangan justru mengubah cara pandang banyak orang.
Awalnya, penembakan disebut terkait pembubaran tawuran. Tapi dalam rapat bersama Komisi III DPR RI, muncul penjelasan berbeda.
Kabid Propam Polda Jateng menegaskan peristiwa itu bukan bagian dari tugas, melainkan dipicu persoalan pribadi.
Kombes Pol Aris Supriyono menjelaskan, kejadian berlangsung pada 24 November 2024 sekitar pukul 00.22 WIB.
Saat itu, Robig baru pulang dari kantor. Dalam perjalanan, ia merasa jalannya dipepet oleh tiga pengendara motor, termasuk korban.
Perasaan tersinggung itu berubah menjadi emosi. Ia kemudian menunggu para siswa di lokasi lain.
Beberapa saat kemudian, penembakan terjadi di depan sebuah minimarket di Semarang Barat. Salah satu korban, berinisial GR, tidak selamat.
Di tengah berbagai spekulasi, rekaman CCTV menjadi kunci penting.
Penyidik menemukan rekaman yang menunjukkan situasi sebenarnya di lokasi kejadian. Tidak terlihat adanya tawuran seperti yang sempat disebut sebelumnya.
Dalam video itu, korban tampak berusaha menghindar. Namun, pelaku tetap melepaskan tembakan.
Fakta ini memperkuat dugaan bahwa insiden tersebut murni persoalan pribadi, bukan bagian dari penegakan hukum.
Kasus ini terus menyita perhatian karena menghadirkan ironi—seorang aparat yang seharusnya menegakkan hukum justru terjerat pelanggaran serius, bahkan saat menjalani hukuman.
Dan kini, pertanyaan publik belum sepenuhnya terjawab: apa lagi yang akan terungkap dari kasus ini?












